Rabu, 11 Mei 2016

Surat Untuk Arung #1



Arung, apakah kabarmu baik-baik saja? Ku harap Februari ini tak lantas membekukanmu di sana. Kotamu cukup ramah bukan? Aku tahu kau selalu bisa beradaptasi dengan cepat. Beberapa waktu yang lalu, aku membaca sebuah novel berlatarkan kotamu. Buku apa yang terakhir kau baca? Masihkah kau menyimpan buku-buku yang ku hadiahkan? Kau tahu, aku memikirkanmu. Ini bukan pertama kalinya aku menulis untukmu. Aku tidak pernah berbicara tentangmu pada siapapun sebelumnya. Tapi, di awal tahun ini aku berani menyebutkan namamu pada 2 orang sahabatku. Mereka berdua adalah orang yang selalu mengerti dan mau mendengar segala celotehanku, termasuk tentangmu. Aku bisa membayangkan bagaimana raut wajah mereka ketika mereka membaca tulisan ini.
Februari [ku] di sini cukup membuat risau. Ada yang berdesir-desir tak karuan di dadaku setiap kali memasuki bulan ke dua ini. Februari, bulan kita bertemu untuk pertama kalinya. Tahun ini, hari kelahiranmu pun muncul di kalender. Hari yang spesial karena tidak selalu hadir di tiap tahunnya. Itulah sebabnya kau malas dengan perayaan. Itulah sebabnya kau akan banyak berdiam dan bersembunyi di bulan kelahiranmu ini, menghindari ucapan selamat dan pesta kejutan teman-temanmu. Tapi, kau tidak pernah absen menemuiku di hari spesialmu. Kau selalu minta aku merapalkan beberapa baris doa untukmu. Lalu, kau mulai bercerita tentang hal-hal konyol yang akan kau lakukan di usia mu yang baru. Katamu, semakin usia bertambah tidak lantas menjadikan kita membunuh anak-anak dalam diri kita, justru seharusnya semakin dihidupkan. Kau masih ingat saat kau mengajakku berkeliling kota dengan motor merahmu di tengah hujan deras tanpa mantel? Lalu setelah itu aku terkena flu dan demam yang membuatmu cemas sepanjang malam. Kau masih ingat saat kita memasuki pusat perbelanjaan terbesar di kota kita dengan menggunakan piyama dan sendal jepit swallow? Masih ingat saat kita berlomba mencari 1 buku dengan judul paling tidak terkenal di toko buku langganan kita? Saat itu kita berlarian mengitari barisan rak-rak buku tanpa peduli dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Dan segala hal-hal konyol yang kita lakukan. Ah, aku merindukan saat-saat itu.
Arung, belakangan ini kepala ku sangat ramai tapi terasa begitu sepi. Beberapa ruang di sana tampak kosong melompong ditinggal tuannya. Ada derau rindu yang membuatku risau tak karuan. Aku banyak bersembunyi di balik selimut beberapa hari terakhir ini. Hujan di kota ku cukup untuk membuatku terjebak dalam hening menikmati rintih-rintihnya. Kau selalu bilang hujan akan menyembuhkan luka. Itulah mengapa aku melambatkan kaki saat hujan turun. Begitu ku nikmati tiap tetesan hujan yang seolah jatuh lebih lambat dari biasanya. Nyanyian hujan selalu setia menemaniku menyusuri jalan pulang. Jalan kecil penuh rerimbunan pohon. Percikan airnya yang beradu dengan tanah atau seng atap rumah selalu bisa meneduhkan, mengingatkanku untuk kembali pulang. Saat hujan turun, pintu langit terbuka seperti memanggil untuk pulang merebahkan segala penat dan membisikkan segala resah. Pintu-pintu itu seperi sepasang lengan yang siap memeluk segala harap. Pintu-pintu itu pun seperti bahu untuk menyandarkan tetesan air mata pilu yang lama tertahan.
Tenang saja, aku tidak akan terkena flu hanya karena bermain hujan. Sepertinya antibodi ku saat ini sudah lebih baik. Aku tahu kau akan cemas jika itu tentang kesehatanku.
I love you but it’s not so easy. To make you here with me. I wanna touch and hold you forever. But you’re still in my dream... [lagu kesukaanku mengalun tepat di lirik ini, aku menuliskannya karena kurasa sangat mewakili apa yang membuatku risau saat ini]
Arung, belakangan ini aku seperti lelah jatuh berkali-kali di tempat yang sama. Tapi, seorang teman pernah bilang, bahwa tidak ada yang salah dengan jatuh di tempat yang sama, berulang kali. Aku seharusnya bersyukur karena Tuhan masih memberi kesempatan untuk memperjuangkan apa yang ku yakini. Jatuh dan luka adalah sebuah keniscayaan yang datang bersama, cukup bersyukur saja. Selama tak kehilangan akal sehat dan keimanan, jatuh cinta bukanlah hal yang salah. Aku [akan mencoba] menikmatinya. Kuharap rasa ini tak lantas menghilangkan keimananku, tapi justru semakin membawaku kepada-Nya, Sang Pemilik Cinta. Apa yang membuatmu lebih menggigil selain rindu yang terpendam sendiri? Bahkan hujan pun tak sanggup menggigilkanmu sedingin dan sesepi itu.
Percayakah kau dengan cinta yang sejati? Cinta yang seperti apa kah itu? mampukah manusia memiliki cinta yang seperti itu? Lalu, seperti apa setia itu? seperti apa janji dan komitmen itu? mengapa orang-orang selalu mengatasnamakan cinta di atas janji dan komitmennya? Bukankah mereka hanya mencoba menyembunyikan kenyataan bahwa cinta mereka tak akan pernah cukup untuk sebuah hubungan hingga mereka butuh sebuah janji dan komitmen? Bisakah cinta tanpa keinginan untuk menguasai? Sanggupkah cinta seperti itu bertahan? Adakah cinta tanpa melukai? Lalu, mampukah cinta bertahan atas segala luka?
Ah, maafkan... pertanyaanku semakin lama semakin kacau. Kau tahu, aku banyak meracau belakangan ini. Semoga ini tak mengacaukanmu.
Kudengar kau akan segera berdiam di sebuah desa untuk beberapa waktu. Nikmatilah sunyimu tanpa sepi. Jika di sebuah malam tak ada nyanyian dan pendaran bintang, coba penuhilah kepalamu dengan tanyaku tadi. Ku yakin akan segera ramai. Lalu, suatu hari kita akan duduk bersama menjawab semua tanya itu dengan segelas kopi buatanku, kesukaanmu. 

Selamat. Malam.
Semoga pagi menemuimu dengan senyum, seperti biasa.

Malang, 4 Februari 2016

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)