Jumat, 22 April 2016

Pariwisata Aceh: Sebuah Magnet di Ujung Barat Indonesia



Suatu hari ketika saya mengikuti program pertukaran pelajar ke negeri matahari terbit, hostfam dengan peta di meja meminta saya menunjukkan di mana letak Indonesia. Lalu saya menunjukkannya mulai dari ujung barat ke timur, utara ke selatan. 

Whoa, sugoi ne. Teriak mereka histeris dengan mata yang terbelalak.

Mereka pun meminta menunjukkan tempat tinggal saya di peta itu. Lalu saya tunjukkan tepat di ujung selatan pulau Sulawesi. Okasan kemudian menanyakan, ”apakah kamu sudah mengunjungi seluruh pulau di negaramu?”. Jleb. Saya cuma bisa nyengir dan mengatakan, “jangankan seluruh Indonesia, mengelilingi Pulau Sulawesi saja saya belum khatam.” 

Whoa,  kamu harus mengunjunginya. Suatu hari kamu harus mengelilingi negaramu. Kami sekeluarga mungkin belum pernah mengunjungi Indonesia, tapi saya yakin negaramu adalah negara yang indah dan kamu harus mengenalinya.” Begitu nasihat Otoosan malam itu. Nasihat yang selalu menjadi api abadi, pembakar semangat untuk mengunjungi seluruh pelosok negeri ini.

Indonesia merupakan negara maritim, yang menurut Badan Informasi Geospasial memiliki luas wilayah
Pulau Kodingareng Keke, Sulawesi Selatan (sumber: dok pribadi)
perairan 6.315.222 km2 dengan panjang garis pantai 99.093 km2 serta jumlah pulau 13.466 pulau yang bernama dan berkoordinat. Data tersebut tidak akan bisa membuat kita ragu lagi bahwa sepotong surga yang jatuh ke bumi ada di Indonesia. Lahir dan besar di sebuah daerah pesisir berjulukan Butta Panrita Lopi (Tanah para Pengrajin Perahu) membuat saya sejak kecil menjadi penyuka pantai dan laut. Dimanjakan dengan keindahan pasir putih Pantai Bira dan pemandangan bawah lautnya tidak lantas membuat saya mager  dan berdiam di tanah kelahiran saja. Pulau Salemo, Samalona dan Kodingareng Keke adalah pulau-pulau kecil di Sulawesi Selatan yang sempat saya kunjungi. Namun, darah pelaut bugis dan mandar yang mengalir dalam tubuh membuat semangat menjelajah seperti setia meletup-letup mengiringi tiap denyutan jantung.

Pengalaman di Pulau Sabang Mawang (sumber: dok pribadi)
Pengalaman di Pulau Sabang Mawang (sumber: dok pribadi)
Tahun 2011 awal petualangan saya menjelajahi garis pantai Indonesia. Petualangan ini adalah mimpi yang akhirnya berwujud nyata melalui Lintas Nusantara Remaja dan Pemuda Bahari (LNRPB) yang merupakan salah satu rangkaian dari Sail Belitong. Bersama satgas LNRPB dan ratusan pemuda dari berbagai pelosok negeri, saya mengunjungi kota-kota pesisir di wilayah barat Indonesia menggunakan KRI-Makassar 590. Dimulai dari Pulau Sabang Mawang yang merupakan salah satu pulau di Kepulauan Natuna, salah satu garda depan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Batam, Dumai, Bangka dan Belitong adalah destinasi selanjutnya. Sebuah pengalaman luar biasa yang membuat saya jatuh cinta dengan pantai-pantai barat Indonesia. Pengalaman belajar diving di Bangka yang dibimbing langsung oleh Bapak TNI-AL adalah pengalaman pertama saya belajar bernapas di bawah laut menggunakan tabung dan selang yang kusebut seperti tentakel hehehehe. Pasir putih pantai di Bangka yang menyilaukan mata, deretan batu-batu raksasa di Pantai Laskar Pelangi Belitong seperti membawa saya terjun ke dalam negeri dongeng. Kegiatan homestay dan merasakan kehidupan nelayan di Pulau Panjang, Batam, membuat saya mengerti tentang arti kesederhanaan dan kehangatan yang merupakan karakter asli Bangsa Indonesia yang sebelumnya hanya saya temukan di buku-buku teks pelajaran PPKn sekolah dasar dulu. Begitupun dengan nuansa melayu dan keramahanmasyarakat Pulau Sabang Mawang mencipta rindu yang tak pernah usai di dada. 

Sebagai Delegasi Prov. Sulawesi Selatan di Kapal Pemuda Nusantara 2011 (sumber: dok pribadi)

Pelabuhan Saumlaki, Maluku Tenggara Barat (sumber: dok pribadi)
Tahun 2015 kembali memuaskan hasrat haus saya akan pesona pantai Indonesia. Kali ini bersama satgas Ekspedisi Nusantara Jaya menggunakan KRI-Banda Aceh 593 saya mendapat kesempatan mengarungi perairan wilayah timur Indonesia. Sorong Papua Barat, Saumlaki Maluku Tenggara Barat, dan Kupang Nusa Tenggara Timur adalah tiga destinasi yang mewakili. Sorong menyajikan potret masyarakat khas kota pelabuhan dan transmigrasi, asimilasi dan akulturasi bisa ditemukan di sana. Meskipun belum bisa menjelajah ke masyarakat asli Papua, sebuah kesyukuran tak terhingga yang saya rasakan akhirnya bisa menghirup udara dan menyaksikan tanah Papua yang eksotis. Pantai Lasiana, Kupang, pun membuat saya terkagum-kagum. Maklum, saya belum pernah melihat pohon lontar tepat di tepi pantai, hehehe. Saumlaki, oh jangan ditanya apa yang membuat rindu dengan daerah kecil di Tanimbar Selatan ini. Lautnya yang jernih bersih seolah tak pernah tersentuh bak perawan. Keramahan dan kehangatan khas masyarakat pelosok menjadi kesan tersendiri selama di Saumlaki. Kekayaan alam dan budaya tradisi lokal yang masih terjaga membuat Saumlaki menjadi titik kecil untuk mengintip Indonesia yang ternyata memang betul-betul kaya.


Pantai di Saumlaki, Maluku Tenggara Barat (sumber: dok pribadi)

ENJ 2015 di Kupang (Sumber: dok ENJ 2015)

Pantai Lasiana, Kupang NTT (Sumber: dok pribadi)

Meski belum secara keseluruhan, perjalanan di 2011 dan 2015, menyusuri beberapa pulau dan daerah pesisir wilayah barat dan timur Indonesia membuat saya semakin haus akan pesona bahari Indonesia. Masih ada ribuan pulau yang mungkin tidak akan sanggup saya kunjungi seluruhnya dalam sisa hidup. Namun, setidaknya ambisi pribadi saya adalah mengisi perjalanan hidup yang sementara ini dengan menikmati dan merasakan denyut jantung Ibu pertiwi di berbagai pelosoknya. 
Langit Sore Papua (sumber: dok pribadi)

Melintasi Gunung Tambora (sumber: dok pribadi)
Dua kali dikukuhkan sebagai ‘warga laut’ oleh Dewa Neptunus melalui tradisi Mandi Khatulistiwa tepat di wilayah perairan barat dan timur Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri. Sebuah tradisi untuk menyematkan keberanian mengarungi, menjelajah dan menjaga laut membuat saya tertantang untuk menyelami pesona bahari Sabang yang menjadi jantung pariwisata Aceh. April ini pun dihelat sebuah gelaran Sabang Marine Festival untuk mengangkat dan menarik perhatian para wisatawan. Bak magnet di ujung barat Indonesia tarikannya sungguh kuat. Betapa tidak, Sabang menawarkan berbagai spot wisata yang wajib dikunjungi. 

1. Pantai Iboih
Pantai pasir putih Iboih yang juga sering disebut Teupin Layeu menjadi primadona yang menjadi salah satu wishlist saya sebagai pemburu pantai. Pantai ini menawarkan keindahan alam yang luar biasa mempesona. Air laut Pantai Iboih yang begitu jernih berwarna hijau dan kebiru-biruan, belum lagi spot keren untuk bersnorkling maupun diving. Saya membayangkan Pantai lboih akan menyambut saya dengan kerajaan bawah laut yang indah bak di negeri dongeng. 
 
Pantai Iboih (sumber: http://ksmtour.com)
2. Pantai Anoi Itam
Pantai berpasir putih mungkin banyak ditemukan di sepanjang garis pantai Indonesia. Namun, membayangkan bagaimana eksotisnya ombak jernih berwarna biru kehijauan yang menyapu hamparan pasir pantai berwarna hitam membuat saya penasaran dengan Pantai Anoi Itam yang berjarak 13 km dari Kota Sabang ini. Konon, pasir hitam itu berasal dari gunung berapi yang masih aktif di Pulau Weh. Pasir hitam ini pun memiliki keistimewaan yaitu berat jenisnya yang 3 kali lebih berat dibandingkan pasir hitam pada umumnya. Beberapa sumber menyebutkan hal ini disebabkan karena pasir hitam Pantai Anoi itam memiliki kandungan nikel. Selain pemandangan eksotis si hitam, di dekat pantai terdapat sebuah benteng peninggalan masa penjajahan Jepang. Selain sebagai benteng pertahanan, benteng ini merupakan sebuah tempat penyimpanan senjata bagi tentara Jepang pada masa itu. Suguhan pemandangan yang eksotis, hembusan udara yang bersih dan angin yang menyejukkan, serta nilai sejarah yang kaya membuat saya membayangkan memasuki sebuah mesin waktu jika berkunjung ke tempat ini.
 
Pantai Anoi Itam (sumber: http://jalan2.com)
3. Tugu Nol Kilometer
Lokasi tugu ini tepatnya terletak di areal objek Wisata Sabang di Desa Iboih Ujong Ba’u, Kec. Sukakarya, atau sekitar 5-6 km dari Pantai Iboih Sabang. Berdiri di titik nol kilometer sebagai penanda letak geografis wiyah barat Indonesia adalah sebuah cita-cita yang kugantungkan 5 cm di atas kepala. Pernah menginjakan kaki di ujung barat Indonesia merupakan suatu kepuasan tersendiri karena tentu jarang dan tidak semua orang yang bisa ke sini. Perjalanan mengunjungi sudut negeri akan terasa lengkap dengan mengunjungi titik nol ini.
 
Titik Nol Kilometer (sumber: http://dinamikarakyat.com)
Sudah pernah mengarungi laut menggunakan KRI-Banda Aceh 593 berharap suatu hari bisa benar-benar menginjakkan kaki di Serambi Mekah, Banda Aceh (sumber: dok pribadi)
Pernah merasakan kehidupan masyarakat melayu di pesisir barat Indonesia seperti menancapkan rindu tak berujung untuk selalu kembali—kusebut itu pulang, menemui kehangatan Mamak, memeluk senyum dan tawa bocah-bocah pesisir, dan keindahan alam yang tiada tara tentunya. Sebuah magnet di ujung barat Indonesia bertajuk Sabang Marine Festival 2016 semoga menjadi pintu yang membawa deretan mimpi ini menuju nyata. Sabang sebagai jantung pariwisata Aceh menawarkan medan magnet yang sangat kuat dan menulis adalah cara paling jitu untuk menerjunkan diri pada tarikan energi itu. Yap! Merayakan Sabang Marine Festival 2016 lewat tulisan. Menulis seperti ini adalah sebuah upaya memvisualisasikan mimpi. 
Karena setiap mimpi berhak untuk diwujudkan, sebesar dan sekecil apapun itu.

sumber: http:/disbudpar.acehprov.go.id

2 komentar:

Anonim mengatakan...

waaawwww, ngerih bingitz petualangan baharinya ini Ibuk... ayo ambil sertifikat Kilometer Nol Indonesia di Pulau Weh, sampai ketemu di Sabang Marine Festival. yeaayyy

pelukis malam mengatakan...

Aku mah apa atuh dibanding Mr.F, semacam remah-remah rempeyek ji 😂.... ssiiiiaaap... smoga bisa ambil sertifikat Kilometer Nol 😆 di SMF2016... aamiin

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)