Kamis, 11 Februari 2016

Time Lapse



3 hari yang lalu
Pagi itu, sinar matahari diam-diam menyelinap melewati tirai dinding depan yang tersusun dari beberapa bilah bambu membentuk bayang-bayang bergaris. Sinarnya menembus menghampiri deretan buku-buku bersampul warna-warni yang berbaris tumpang tindih di rak kayu tua. Tiga ekor burung menyanyikan lagu pagi yang indah di dahan pohon tua yang sudah sejak awal mendampingi bangunan mungil berwarna cokelat tua ini. Beberapa genangan terbentuk seperti pola polkadot di halaman depan sisa hujan semalam. Hari ini hari minggu dan cerah. Aku masih terjaga sejak semalam bercumbu rayu dengan 3 gelas kopi susu dan semangkuk kentang goreng. Aku duduk terdiam menatap bayang-bayang itu. Sejak semalam aku di ruangan ini, sesekali membuka lembaran-lembaran buku kecil bersampul cokelat yang sudah sangat lusuh. Di beberapa halamannya aku tersenyum, lalu di halaman lain aku bisa tertawa terbahak-bahak, kemudian sesekali ku termenung di halaman yang menerbangkanku ke masa lalu. Dari balik meja kayu ku sapa Sang Mentari dengan senyum tipis. Ah pagi akhirnya datang. Beberapa jam lagi aku harus beranjak meninggalkan kursi kayu ini, meninggalkan berderet rak buku ini, meninggalkan riuh tawa dan celotehan bocah-bocah yang tak henti di setiap inchi ruangan ini. Sebentar lagi, aku ingin menikmati suasana hening pagi ini sebentar lagi.

Suara ibu kemudian sedikit mengusik perayaan sunyi ku. Beliau mengingatkan untuk segera kembali ke rumah menikmati sarapan terenak yang ia buat sejak subuh tadi. Beliau begitu bersemangat beradu silat dengan berbagai peralatan dapur. Katanya ini spesial untuk anak perempuannya yang begitu keras kepala ingin meninggalkannya di usia tua. Begitulah ibu, betapapun sedihnya karena lagi-lagi ia akan berteman sepi, di satu sisi beliau pun bergembira atas segala keputusan anak perempuan satu-satunya. Ibu seorang perempuan yang kuat. Beliau telah terbiasa dengan kesunyian. Ini bukan kali pertama beliau melepasku. Tapi aku janji ini yang terakhir, Bu. Aku masih ingat ketika pertama kali ku ungkapkan keinginanku untuk melanjutkan kuliah di tanah jawa. Ibu hanya tersenyum mengiyakan, tapi ada raut sedih tergaris di sudut matanya. Lalu, aku hanya menghiburnya dengan iming-iming, “kan kalau sekolah jauh ibu punya kesempatan jalan-jalan juga menjenguk saya. Paling tidak saat wisuda, ya kan Bu.” Begitu ku merayunya. Dan Ibu pun luluh. Begitu pula saat aku meminta ijin beliau untuk kembali sekolah di jejang yang sama untuk kedua kalinya. Saat itu pun tak tanggung-tanggung, aku meminta ijin untuk ke benua yang lain. 

“Kenapa harus mengulang jenjang yang sama, Nak?” 

“Karena saya masih haus, Bu.”

“Kenapa tidak melanjutkan ke jenjang yang berikutnya saja? Toh kan belajar juga.”

“Saya hanya tidak ingin terburu-buru, Bu. Lagipula saya ingin mempelajari ilmu yang lain. Untuk jenjang berikutnya, Insya Allah akan ada rejeki suatu hari nanti, Bu.”

Ibu hanya memeluk ku. Hangat.

Dan saat ini, Ibu betul-betul berbeda dari kali terakhir itu. Sedikit lebih bersemangat. Mungkin karena kali ini, aku berhasil mewujudkan mimpinya. Melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang tertinggi.
***

7 hari yang lalu
“Kak, nanti jangan lupa berkirim kabar ya.” Ia menggelayut merangkulku.

“Pasti.” Aku tersenyum memeluknya.

“Kamu kuliah yang rajin ya, jangan lupa besok ada kiriman buku-buku untuk taman baca, komunitas trus ada teman-teman komunitas yang ingin buka kelas menulis, kamu yang koordinir ya. Oh iya, jangan lupa untuk pengiriman kopi ke New Zealand, hari senin.” Ucapku penuh serius.

“Siap, Kak!” teriaknya lantang sambil menekuk tangannya memberi hormat layaknya posisi penghormatan pada merah putih.

Ah, ia masih saja se-ceria dulu seperti saat pertama ku mengenalnya. Saat itu ia masih di bangku SD. Sekarang ia tumbuh menjadi perempuan enerjik dan sangat cantik. Ia saat ini telah mengenyam dunia mahasiswa, semangatnya tidak pernah padam sejak dulu, membuatnya semakin matang menjadi sosok aktifis perempuan dengan segudang prestasi. 

“Kak, aku ikut ke kota ya, aku mau mengantar Kakak.”

“Ah, tidak perlu, nanti Kota Bulukumba bisa kebanjiran karena air mata Kakak dan air matamu.”

Ih, hiperbola!”

Hahahahhahahaha

Tawa itulah yang menutup pertemuan kami. Ia, gadis kecil yang ku kenal dua belas tahun yang lalu sengaja pulang dari perantauan tempatnya menimba ilmu begitu tahu aku ada di rumahnya untuk beberapa malam. Ia kembali ke kampung halamannya, desa tempat kami mengukir banyak kenangan. Pada dahan-dahan pepohonan yang rimbun di sepanjang jalan desa itulah kenangan kami titipkan. Kenangan saat pertama kali aku mengenal bahagia yang sebenarnya. Dan kenangan itu pun menghijau di setiap lembar daunnya.

Hari ini
Ribuan orang berlalu lalang dengan pertanyaan-pertanyaan di kepala mereka mencipta dunia tersendiri. Beberapa lelaki dan perempuan berseragam tampak bersiaga di beberapa titik. Di kepalanya pun penuh pertanyaan mencipat cemas tersendiri. Mungkin mencemaskan keluarganya di rumah. Seperti aku yang mulai mencemaskan beberapa orang yang wajahnya terus membayangi sepanjang perjalanan tadi. Ku hirup aroma dari segelas kopi di tanganku. Mencoba menenangkan diri. Ini bukan pertama kalinya ku bepergian jauh, tapi cemas ku masih sama. Mungkin rindu mulai menjalar menggerogoti ku.  Ku pandangi, deretan pesawat yang sedang menunggu jam terbang. Seperti aku yang menunggu sesuatu bergetar atau berbunyi menunjukkan sebuah nama. Perjalanan kali ini cukup jauh dan melelahkan, pesawat harus transit di kota ini. Kota penuh kemewahan dan ramai dengan jiwa yang sepi.

Drrrt...
Sesuatu bergetar di saku jaket ku.
Hai, senyum dong! 
Aku dan Arung akan merindukanmu. Kami akan menyusul secepatnya.
Love u.

Aku tersenyum dengan bulir hangat yang mulai menetes. Lalu isyarat untuk segera beranjak telah datang.
Ah, tidak terasa sepuluh jam aku duduk di sini mengutak-atik kenangan sepuluh tahun yang lalu. kenangan yang terekam jelas di kepala ku. Waktu pun berlalu begitu lambat untuk segala tanya. Namun, pada akhirnya setiap tanya itu pun kan terjawab oleh Sang Pemilik Waktu dengan segala keteraturannya.


“tempora mutantur et nos mutamur in illis”
waktu terus berubah dan kita pun berubah di dalamnya
—Latin adage


Ku raih buku kecil berwarna biru di tas ku. Ku tuliskan beberapa deret huruf.

Ok. Saatnya bangun danmenghidupkan mimpimu.
Dubai, 2026

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)