Selasa, 09 Februari 2016

Suara [hati] Seorang Jomblo



“Kapan nikah?”


Pertanyaan ini mungkin menjadi pertanyaan paling menggalaukan bagi angkatan 90an. Katanya tahun ini musim nikah bagi yang kelahiran 90, 91, dan 92. Nah, pertanyaan “kapan nikah?” pun menjadi pertanyaan paling horror mengalahkan pertanyaan-pertanyaan seputar fisika dan matematika. Tapi bagi saya biasa-biasa saja [Lebih horror ketika ditanya “kapan wisuda?”]. Ini bukan defense yah, hanya saja kadang ikut-ikutan berekspresi lebay kalau mulai bahas pertanyaan satu itu. Apalagi saya telah ditinggal menikah oleh sahabat-sahabat terdekat saya. Iya, dari 4 bersahabat, tersisalah saya seorang diri yang ((((masih)))) single, mereka menyebut saya ‘serigala terakhir’, dan saya menyebut diri saya ‘single fighter’ hahhahaha. Beberapa mantan kekasih juga sudah lebih dulu ke pelaminan, uhhuuk tidak bisa dipungkiri ini sempat juga membuat hidup jadi galau, yah galau saja tidak lebih tidak kurang. Bagaimanapun kan pernah ada cerita bersama mereka, galaunya karena tidak bisa menghadiri acara nikahan mereka, bahkan ada yang tidak mengundang saya hahahahhaha kesian amat. Tapi, sudahlah saya percaya mereka punya alasan. Bukankah selalu ada alasan dibalik setiap keputusan? (tsaaaah).


Ditinggal menikah sahabat dan mantan kekasih, umur sudah 25an, orang-orang sekitar sudah sering bertanya “kamu kapan?”, “kapan nyusul?”, “kapan nikah?” “kapan?...kapan?....kapan....? (saya juga penasaran kok, kapan yah hahhahaaha). Semua itu tidak lantas membuat saya galau merana. 


“Jadi, kamu tidak berpikir untuk menikah?”.

Ya mbok santai aja, semuanya kan sudah diatur sama yang Maha Kuasa.
Menikah? Saya memang tidak pernah berpikir untuk menikah, dulu [dulu sekali]. Saya berpikir sepertinya saya akan mati muda. Bukan ramalan, mungkin harapan lebih tepatnya. Tapi, sejak Negara api menyerang, pikiran untuk menikah pun mulai muncul, tsaaaaaah. Tapi ya, gak kebelet juga keleeeuus kayak yang ada di meme hehehehe

I’m single and I’m happy
Tidak. Saya tidak nyinyir kok, dengan yang sudah married. Ya, alhamdulillah untuk teman-teman yang sudah menemukan pasangan hidupnya dan bahagia. Yang single? Ya alhamdulillah juga masih bisa bahagia meski belum menemukan pasangan hidup. Bukankah kebahagiaan itu bukan dari apa yang kita miliki? Melainkan dari apa yang kita lakukan? Jadi, single or married, it doesn’t matter yang penting bahagia. 

Being single pun bukan berarti kutukan loh ya. Hanya saja mungkin masih ada tugas dari Yang Maha Kuasa untuk kita selesaikan. Jodoh dan kematian itu hampir sama, akan datang saat ‘tugas’ kita selesai. Hanya saja, kematian lebih pasti akan menyapa di dunia. Sementara jodoh, jika bukan di dunia maka akhiratlah tempat bertemu yang pasti. Lalu, mengapa hati masih saja risau? 



Nikmatilah masa-masa single mu
Banyak yang memberi semangat dengan kalimat seperti itu. Bukan berarti ketika menikah kita tidak bisa lagi melakukan hal-hal yang menyenangkan, saya yakin akan lebih seru. Hanya saja, meratapi ke-single-an kita dengan tatapan iri ke teman-teman yang telah lebih dulu mengecap manisnya pernikahan bukanlah sebuah pilihan yang bijak. Mari menikmati garis takdir ini. Ya. Saat-saat seperti ini, saya lebih banyak mengingat kembali mimpi-mimpi yang sempat mulai terlupakan karena episode jatuh cinta dan patah hati berkali-kali. Mulai membangunkan mimpi-mimpi dari tidurnya yang panjang. Jomblo pun membuat saya lebih banyak belajar, belajar berjuang sendirian—melawan diri sendiri. Dulu, saya begitu tergantung dengan yang namanya kekasih. Tawa dan tangis ada pada dia. Semangat dan mood ada pada dia. Lalu dia pergi, membawa semua itu. Tinggallah saya yang terpuruk, hilang nyawa. Dan akhirnya saya pun menyadari yang mampu menjaga hati kita hanya kita sendiri bukan orang lain. Oke, poin tambahannya adalah menjadi jomblo membuat kita juga banyak merenung dan berfilsafat. 

Banyak hal yang bisa dilakukan mengisi kekosongan ini. Misalnya, membuat self challenge. Kali ini saya menantang diri sendiri dengan beberapa proyek. Yap! Self-War Project lebih tepatnya. Mulai dari membatasi diri dari sosial media, tantangan #50bookstoread, 30 Days Writing Challenge, #save20ribu, dsb. Jadi jomblo pun bisa membuat kita lebih kreatif dan menghargai diri sendiri. Menjadi jomblo pun bisa membuka kesempatan se-luas-luasnya untuk mengikuti berbagai macam kegiatan komunitas. Apalagi saat ini komunitas sedang tumbuh subur di negara ini. Mulai dari komunitas hobi sampai komunitas sosial. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat? Jadi, jomblo pun [bisa] bermanfaat, kan? Manfaatkanlah sebanyak-banyaknya.

Apapun itu, kata Pak Ustadz, apakah berakhir single or married yang penting khusnul khatimah. Tsaaaaaaah.




sumber gambar: di sini

2 komentar:

Munadry Aslam mengatakan...

Jadi... KAPAN NIKAH? hahaha..

pelukis malam mengatakan...

sudah pi lebaran kak :) hahhahhaha

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)