Jumat, 12 Februari 2016

Sang Aku





Siapakah dia
Yang tiba-tiba hadir
Di dalam tubuhku
Di dalam otakku
Di denyut jantungku
Di tarikan dan hembusan nafasku
Di gerakan tanganku
Di langkah kakiku
Di seluruh aktivitas hidupku?
. . .
Siapakah dia
Yang tiba-tiba menjadikanku
Bisa melihat keindahan dunia
Mendengar merdunya suara
Mencium wewangian bunga-bunga
Merasakan hangatnya pelukan
Dan dinginnya udara malam
Menikmati lezatnya
Makanan dan minuman
Yang setiap hari mengaliri lidah
. . .
Ooh siapakah dia
Yang menjadi perasaan ini
Menjadi kehendak yang membuatku berlari
Melintasi padang kehidupan
Yang menjadikanku merasa ada
Bersamaan dengan keberadaan segala?
. . .
Menyebut diriku ‘aku’
Dan menyebut dirimu ‘kamu’
Serta menyebut mereka sebagai ‘dia’
Juga merasakan aku di sini
Dan engkau di sana
Seakan dunia terbagi
dalam keberjarakan hakiki?
. . .
Wahai siapakah engkau
Yang bersemayam di dalam diriku
Yang terus setia melintasi waktu
Yang menjadi kekuatan
Dan semangat hidupku
Yang menggairahkan keinginan
Untuk terus melawan
Datangnya kematian
Yang kadang begitu melelahkan
Bagi sementara orang?
. . .
Wahai engkau
Yang  lebih mengenal diriku
Dibandingkan aku
Yang lebih dulu ada
Dibandingkan tubuhku
Yang lebih abadi
Dibandingkan jasadku
Yang lebih berilmu dibandingkan
Seluruh pengalamanku
. . .
Kenapa aku tak begitu mengenalmu
Padahal sudah puluhan tahun
Aku selalu bersamamu
Dalam sedih maupun bahagiaku
 . . .
Benarkah engkau adalah aku?
Atau, barangkali aku adalah engkau?
Atau, jangan-jangan dia,
Engkau dan aku
Adalah sama:
Sekedar perasaan semu
Yang menggambarkan keberadaan
Sang Maha Nyata?
. . .

Surabaya, 5 Oktober 2015
[Agus Mustofa]

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)