Senin, 29 Februari 2016

Hujan dan Lelaki Penabung Rindu




Aku selalu membayangkan di atas awan sana ada seorang lelaki. Lelaki penabung rindu. Ia mengumpulkan rindunya pada setiap gumpalan awan. Sungguh, ia lelaki yang tabah, menampung dan menahan rindu agar tak jatuh ke tanah. Di kepalanya begitu sesak dengan berbagai cemas. Ia takut kalau-kalau saja rintih rindunya menetes, menyapa tanah, lalu menumbuhkan harap. Sementara, ia belum tahu apa yang harus dilakukan untuk merawat harap itu. Lelaki itu begitu khawatir jikalau harap yang terlanjur mengakar suatu hari harus terkulai layu karena tak mampu menghalau ganasnya sinar sang mentari. Ia selalu saja cemas bahwa rindunya tak pernah cukup. Pun ia terlalu cemas jikalau rindu ia tumpahkan tak berbendung, suatu hari akan mengikis-lenyapkan keindahan tanah. Menggenanginya dengan air mata. Suatu hari, lelaki itu meyerahkan diri. Menyatu dalam gumpalan-gumpalan awan penampung rindu. Membiarkan jiwanya bebas diterbangkan angin. Ia percaya suatu hari rindunya akan jatuh di waktu dan tempat yang tepat. Menjadikan rindunya adalah hujan yang dinanti tanah. Hujan rindu yang merdu. Lelaki itu percaya hujan dan tanah akan bertemu pada garis yang sama. Tertawanlah tumpukan rindu, menggulung-gulung diarak sang angin.
***

Kepada lelaki penabung rindu di atas sana
nikmatilah kemana angin membawamu
percayalah ada tanah yang melapangkan setianya
mendoakanmu 





sumber gambar: di sini

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)