Minggu, 14 Februari 2016

Die Therapie

Berpuluh-puluh terapi yang pernah saya kenal dan jalani, baru kali ini saya mengenal Die Therapie. Adiktif.
Yap. Begitu twit saya di lini masa. Die Therapie. Saya mengenalnya dari seorang sahabat dan langsung tertarik dari judulnya. Sekilas yang saya lihat hanya kata ‘Die’—mati [eng.] dan ‘Therapie’—terapi. Rupanya saya mengartikan kedua kata tersebut terlalu terburu-buru. Saya berpikir artinya adalah ‘terapi kematian’. Hahahhaha konyol. Saya memang orang yang terburu-buru. Die Therapie adalah judul buku dalam Bahasa Jerman yang berarti “Terapi”. Saya mengingat-ingat kembali pelajaran Bahasa Jerman semasa SMA, ‘die’ di sini sama dengan ‘the’ dalam Bahasa Inggris #CMIIW. Benarlah bahwa buku ini bercerita tentang terapi seorang penderita skizofrenia. Novel bergenre psyco-thriller ini berhasil mengobrak-abrik isi otak saya. Saya tenggelam dalam pemikiran-pemikiran Victor Larenz—seorang psikiater terkenal di Kota Berlin. Ia kehilangan putri semata wayangnya, Josy. Tanpa bukti, tanpa saksi, tanpa jejak. Viktor mengalami frustasi sejak kehilangan putrinya yang sebelumnya didiagnosa mengidap penyakit misterius. Tidak seorangpun dokter yang dapat mengetahui dengan pasti penyakit putrinya. Empat tahun berlalu tanpa kabar sedikitpun dari perkembangan kasus hilangnya Josy membuat Victor memutuskan untuk menenangkan diri di sebuah pulau. Tak terduga, di pulau itu ia diusik oleh kehadiran Anna Glass yang mengaku penderita skizofrenia. Anna meminta Victor untuk menjadi terapisnya. Meskipun pada awalnya Victor menolak, ia terlanjur tertarik dengan cerita-cerita Anna yang memberinya petunjuk akan keberadaan Josy hingga akhirnya ia menemukan kebenaran.



Novel ini berhasil menjebak saya dalam pusaran pikiran-pikiran Victor. Viktor yang ternyata melakukan FII (Fabricated Induce Illness) yang artinya sengaja membuat orang yang diberikan obat menjadi sakit terus-menerus, agar tercipta kondisi ketergantungan. Ya, dia melakukan itu pada Josy. Victor membuat putrinya agar ‘tampak’ seperti mengidap Sindrom Munchausen (Sindrom yang membuat penderitanya melakukan kebohongan patologis, mereka membuat diri mereka sendiri tidak sehat hanya untuk mendapat perhatian dari orang lain) dalam delusinya. Ya. Sebenarnya Victorlah yang mengalami gangguan mental. Ia bahkan didiagnosa memiliki multi disorder. Buku Die Therapie berisi tentang delusi-delusi Victor untuk menyembunyikan kebenaran bahwa dia lah pelaku sebenarnya yang mencelakakan bahkan hampir membunuh putrinya sendiri. Mengapa Victor melakukannya? Cinta. Itulah satu-satunya penyebab dari apa yang dilakukan Victor. Ia terlampau mencintai putrinya, hingga akhirnya ia tidak mampu menerima kenyataan bahwa putrinya telah beranjak dewasa. Victor tidak menginginkan itu. Akhirnya ia membuat putrinya menjadi sakit dan bergantung padanya. 

Tak ada yang pernah menduga Victor, seorang terapis hebat dalam menangani skizofrenia justru pada akhirnya juga mengidap skizofrenia. Selama 4 tahun ia berada di sebuah rumah sakit jiwa dengan diagnosa depresi karena kehilangan putrinya. Akhirnya, ia mampu melakukan self-therapy melalui Anna Glass, tokoh delusional yang ia ciptakan untuk menelusuri kebenaran ata apa yang terjadi pada putrinya. Victor tahu betul bahwa sampai kapanpun gangguan mentalnya tidak dapat disembuhkan. Ia memutuskan untuk menjebak dirinya dengan obat-obat depresi dimana hal tersebut akan mengembalikannya pada dunia delusi yang ia cipakan sebelumnya. Kembali ke pulau dimana ia menyendiri, bertemu Anna Glass dan segala hal tentang putrinya. Victor percaya bahwa itulah jalan satu-satunya untuk membuat putrinya aman. Kenapa? Cinta. Ya. Cintalah yang membuat Victor rela berbaring dan terkurung selamanya di balik tembok kamar perawatan rumah sakit jiwa, hidup dalam delusi-delusinya. Semua karena ia begitu menyayangi putrinya.

Sebastian, sang penulis Die Therapie sungguh penulis yang hebat, ahli, dan cerdas. Sejak awal membaca Die Therapi seperti tidak ingin berhenti. Sebastian seperti membawa saya berpetualang dalam pikiran-pikiran Victor. Dia mampu menyajikan petualangan tak tertebak. Bahkan endingnya sangat mengejutkan. Twisted! Saya pun sempat meragukan diri saya sendri. Benarkah apa yang saya temui, apa yang saya alami selama ini adalah realitas atau jangan-jangan semuanya hanya delusi semata? Jangan-jangan saya hidup seperti Victor. Oh, No! Seketika seya jadi pendiam setelah membaca buku ini, saya lebih banyak bercerita dengan diri saya, menelusuri lorong-lorong logika dan rasa.

Satu hal yang saya sadari dari petualangan delusi Victor, bahwa Love is [d]elusive, sesederhana itu. Delusif bagi yang memainkan rasa secara berlebihan dan mengerdilkan logika. Elusif bagi yang memainkan logika secara berlebihan dan mengerdilkan rasa. Dan berhati-hatilah dengan logika dan rasamu.

1 komentar:

Nursyamsi SY mengatakan...

Udah selesai baca buku ini??? Daebakkkkk

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)