Kamis, 28 Januari 2016

Januari: Sebuah Awal, Sebuah Akhir



Dalam hitungan jam Januari akan segera berakhir. Apa saja yang sudah kamu lakukan di bulan pertama tahun 2016 ini? Jleb

Ada yang Berakhir dan  Bermula di Januari
Sejak lama saya senang merangkum memori, mengkategorikan, dan mengumpulkannya dalam kotak. Kotak itu ada dua belas sesuai nama bulan dalam setahun. Di satu kesempatan saya senang membuka kotak itu satu per satu, menengok isinya, merapikan, dan menatanya dengan baik. Mungkin karena kesenangan itu akhirnya saya memberi label di setiap kotak itu. Bukankah segala hal memiliki pola? Manusia dan setiap makhluk hidup memiliki pola mulai dari struktur, fisiologis, serta perilakunya. Jika kita tarik ke dimensi yang lebih besar, peristiwa-peristiwa yang terjadi pun pada dasarnya adalah sebuah pola. Di sebuah film (lupa judulnya) seorang tokoh wanita yang berperan sebagai hacker handal mengatakan, “hidup ini dipenuhi pola, cukup temukan pola itu kau akan tahu celahnya, dan tahu apa yang harus kau lakukan.” 


Januari, ada yang berakhir dan bermula di bulan ini. Selalu. Berakhir di Januari? (seperti lagunya Om Glenn Fredly) Tidak. Bukanlah sebuah hubungan percintaan yang berakhir di Januari kali ini. Tapi unproductive phase ! Hell yeah! Saatnya mengakhir fase-fase tidak produktif, fase penggalauan, fase malas-malasan, fase prokrastinasi. Hayati lelah? Tidak, mungkin Hayati sudah puas dan bosan hahhahaha. Sejak medio 2015 fase-fase tersebut dimulai hingga klimaks di akhir tahun. Di suatu sore, saya mendeklarasikan ke teman-teman se-rumah, “Saya tidak akan mengeposkan status, gambar, video, dan semacamnya di akun FB, IG, Path, Line, dan BBM.” Sontak saja mereka semua tertawa terbahak-bahak dengan tatapan sangat sangat tidak percaya. Mereka bertaruh deklarasi itu bertahan selama berapa hari jam. Ok, fine! Saya semacam tertampar. Ini tantangan! Let’s see. Jika kemarin saya bisa bertahan tanpa smartphone hampir 3 bulan (komitmen menuju seminar proposal) kenapa kali ini tidak bisa? (komitmen menuju ujian tesis). 

Januari ini menjadi akhir dari fase-fase unpoductive tersebut sekaligus menjadi permulaan sebuah pertempuran. Pertempuran melawan diri sendiri. Bukankah lawan terberat kita adalah diri kita sendiri? Jadi, secara resmi Self-War Project 2016 saya luncurkan di Januari ini sekaligus menandai fase suram kemarin.

Social Media vs Resolusi 2016
Di akhir tahun, saya membuat coretan di 6 lembar kertas. Yap!  Kumpulan “Resolusi 2016” (*fire work effect). Resolusi 2016, baru kali ini saya membuat menulis resolusi saya. Di tahun 2016 ini saya punya 6 resolusi (*saya akan coba lukiskan di kanvas yang lain). Lalu Januari datang dengan [masih] membawa hujan Desember membuat saya tenggelam dalam genangan keluhan-keluhan dan pertengkaran dengan diri sendiri. Media sosial pun menjadi tempat pelarian paling asyik. Berkata-kata mencoba menunjukkan ungkapan hati. Mengeposkan gambar, lagu, video, puisi, yang sesuai dengan isi hati dan otak. Lalu suatu hari saya menyadari ada yang tidak beres dengan psikis saya. Saya mulai kecanduan, merasakan kesenangan yang aneh. Saya yang tadinya mengeposkan status, gambar, lagu, video, dsb dengan maksud berbagi kegalauan, berbagi kebahagiaan, berbagi kesedihan, berbagi kebingungan, akhirnya menjadi sesuatu yang membuat saya merasa kehilangan diri sendiri. Saya bisa menatap layar smartphone  seharian hanya untuk mengecek siapa yang menyukai dan mengomentari apa yang saya poskan. Mencari-cari apakah nama seseorang terselip di sana. Saya juga mulai stalking sana-sini (maklum mantan FBI hahhaha). Ujung-ujungnya malah galau super maksimal. Singkat cerita, saya menyadari saya mulai terkena social media addicted syndrome. Pengaruh sosial media tersebut tidak hanya secara psikis, tetapi juga memberi dampak secara fisik. Hampir lebih 2 minggu lamanya pangkal ibu jari saya mengalami nyeri yang tak tertahankan, pergelangan dan sendi di lengan saya pun demikian. Gejalanya mirip dengan De Quervain’s Syndrome. Ok, fix! Saatnya mengakhiri semuai ini.
Resolusi 2016 saya bisa saja luluh lantah di bulan pertama hanya karena kecanduan media sosial. Akan sangat lucu dan menyedihkan jika itu terjadi.  

Menjebak Diri
“terkadang, kita perlu menjebak diri sendiri...”
Begitu nasehat seseorang di suatu sore yang teduh.
Pertengahan Januari ini, sebelum semuanya berlarut-larut, saya memutuskan untuk tegas dengan diri sendiri, membuat Self-War Project 2016 ditandai dengan penandatanganan MoU dengan teman-teman se-rumah sebagai partner. Dulu, saya pernah punya partner, time keeper handal yang bisa selalu menyusun dan mengingatkan target-target maupun mimpi jangka panjang. Seseorang yang bisa begitu galak saat saya malas-malasan. Tapi itu dulu. Bahkan dia sendiri sering berpesan, saya harus belajar ‘hidup sendiri’ tidak tergantung dengan siapapun. Sekilas teman-teman di sekitar saya mungkin percaya bahwa saya seorang perempuan yang tangguh, bisa hidup sendiri di hutan Amazon sana. Tapi percayaah, tidak ada yang mampu hidup sendiri, seseorang selalu butuh sandaran. Hanya saja kadang seseorang Cuma butuh satu sandaran, yang lain butuh beribu-ribu sandaran. Dikit-dikit nyandar, dikit-dikit minta di papah, dikit-dikit minta digendong. Bahkan jika harus menjadi satu-satunya manusia di Amazon, saya tetaplah butuh sandaran, pohon tua atau bahkan buaya sekalipun hihihihihihi. (*oke sepertinya saya sudah mulai ngelantur ke sana ke mari, kembali ke laptop).

Saat, nasehat Om Mario Teguh, teman terdekat, orang tua, atau mungkin kekasih (*kalau ada) tidak lagi begitu ampuh mendobrak motivasi dan semangat, satu-satunya yang bisa diandalkan adalah diri sendiri. Bukankah Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum melainkan mereka yang mengubahnya. Yap! Tuhan tidak menyukai hamba yang berputus asa. Tuhan pun menginginkan kesungguhan hambanya, barulah doa-doa hambanya dijabah. 

Saat pepatah-pepatah tak lagi mampu mematahkan kemalasan, komitmen diri sendirilah yang harus diandalkan. Saya mencoba menjebak diri sendiri dengan beberapa aturan, mulai dari aturan bangun pagi, jam tidur, jadwal mengerjakan tesis, baca buku, menulis sampai nonton drama. Alhamdulillah teman-teman se-rumah malah tertarik untuk ikut dalam jebakan ini. Dari yang tadinya mengejek saya, akhirnya mereka memutuskan untuk ikut menjebak diri. Rupanya kami memiliki masalah yang sama. Tidak produktif!

Dan selama 2 pekan ini alhamdulillah saya bisa menjalaninya, meskipun belum optimal. Setidaknya saya memulai dan belajar sedikit demi sedikit memperbaiki. Ada yang berakhir di bulan ini, tapi sebagaimana hukum alam di mana ada akhir di situ ada permulaan, maka di bulan ini pun ada sesuatu yang baik yang saya mulai, semoga bermanfaat bukan cuma untuk saya pribadi.

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)