Selasa, 10 Maret 2015

Lukisan untuk Mantan Kekasih

“bagaimana rasanya ditinggal menikah mantan kekasih?”

Sekilas tadi menemukan pertanyaan itu di salah satu surat seorang sahabat yang juga masih ada hubungan darah. Membaca surat-suratnya beberapa bulan terakhir ini yang lebih banyak mengisahkan mantan kekasihnya yang akan (telah) menikah beberapa hari yang lalu sedikit mengingatkanku dengan satu momen yang pernah ku rasakan juga. Ditinggal menikah sang mantan kekasih. “ditinggal” ? agak aneh rasanya menuliskan kata itu berdampingan dengan kata “mantan kekasih”. Bukan kah sejak ia menjadi “mantan” semuanya sudah “ditinggal”? kecuali kenangan, mungkin. Dulu, aku pun pernah memikirkan pertanyaan tadi, mencoba menerka-nerka bagaimana rasanya. Hingga suatu hari momen itu pun menimpaku. Rasanya? Campur aduk! Kupikir semua yang pernah merasa akan setuju dengan ku. Bahagia sekaligus sedih, sedih sekaligus bahagia. Bahagia karena akhirnya dia menemui bahagianya, sedih karena semua akan benar-benar “berakhir”, tidak akan sama lagi. Loh, bukannya sejak memutuskan hubungan semuanya memang telah berakhir? Semuanya tak akan sama lagi? Hahhahahah memang agak rumit menjelaskan perasaan seperti ini.

Baiklah, “berakhir” yang ku maksud di sini adalah, bahwa akan ada perasaan canggung untuk sekedar menyapanya lagi, menanyakan kabar, atau mungkin sekedar melihat postingan foto yang menunjukkan kehidupan barunya. Meski, dulu, saat berpisah, kita pernah berjanji bahwa semua mungkin berubah kecuali pertemanan, tetap saja semuanya akan betul-betul berakhir tanpa terkecuali, berakhir tepat pada saat kabar pernikahan sang mantan kekasih menyapa bersama gerimis sore.

Melukis tentang ini sebenarnya sudah lama ingin kulakukan, tapi sama sekali susah mengumpulkan keberanian. Ada canggung dan kecemasan yang berlebih setiap ingin ku mulai goresan pertama. Lalu kenapa sekarang bisa begitu berani? Untuk apa melukiskan dia yang telah kau relakan bahagianya? Mungkinkah kau masih menyimpan rasa? Tidak! Melukiskan dia kali ini bukanlah sebuah tindakan gagal move on tapi lebih kepada ingin mengenang, mengabadikan dan mungkin sebagai ucapan perpisahan (meski ini menjadi ucapan yang sangat sangat telat hehhehehe). Sejatinya, aku hanya tidak ingin niatan—yang lumayan lama ini menjadi unfinished bussiness.

Prolog

Baiklah, aku mengenalnya dalam sebuah forum. Bermula dari kami diberi tugas yang sama, yang mengharuskan kami bertukar nomor handphone, lalu berlanjut dengan dia yang minta dicomblangin dengan beberapa teman kelas ku. Hari ini dia bilang suka dengan si Bunga*, tiga hari kemudian dia suka si Tita*, seminggu berikutnya dia suka si Ana*, (*bukan nama sebenarnya). Entahlah, aku lupa berapa banyak gadis di kelas ku yang [katanya] dia suka. Tapi, lucunya setiap kali aku memulai strategi per-comblang-an, seketika itu juga dia mengganti target sesukanya, ppppfffttt..dasar playboy! Begitu pikirku saat itu. Ah, kami pun dengan mudahnya akrab, gerimis sore yang pernah menahan kami di kampus jadi saksi. Selang beberapa bulan, aku dan dia tiba-tiba lost contact. Hingga setahun lamanya, benar-benar tidak tahu kabar tentang dia. Di suatu sore yang mendung, tetiba saja ku kirimkan pesan singkat bermaksud menyapanya. Sejak saat itu, komunikasi kami kembali terbangun. Dalam waktu singkat menjadi hubungan yang dekat. Dan ketika semuanya mengalir begitu cepat, ku pikir ada harap yang mulai tumbuh. Harap yang baru mulai menguncup itu tetiba saja harus terpatah karena kenyataan bahwa ada seseorang yang begitu spesial untuknya. Ahahahha, bukankah cinta tak harus memiliki? Yah, pepatah itu mungkin klasik. Tapi, dengan dia aku mulai mengerti makna kata-kata yang sering dikumandangkan oleh para pujangga itu. Kau tahu, seseorang mungkin mencintai mu karena dia membutuhkanmu, tapi percayalah itu tidak akan bertahan lama. Namun, seseorang yang membutuhkanmu karena dia mencintamu-lah yang akan bertahan di sampingmu. Apa yang kami jalani mungkin ada pada bentuk yang pertama, mencintai karena butuh. Semacam simbiosis mutualisme. Hampir setahun hubungan itu berjalan. Bahkan saat aku pun memutuskan memperbaiki hubungan sebelumnya yang telah retak, simbiosis mutualisme itu masih ada. Timbul tenggelam, begitu ku menyebutnya. Mungkin tidak sedekat seperti di awal dulu, tapi nyatanya hubungan itu tak pernah benar-benar hilang. Sampai suatu hari, entah apa yang ada di pikiran kami hingga mulai menginginkan status. Saat itu, cinta tak harus [kah] memiliki? Pertanyaan itu terus mengganggu ku. Aku dan dia mungkin tidak menyadari tepat saat kami mulai menginginkan status, saat itu juga hubungan yang telah lama kami jalin mulai berakhir. Hanya berselang beberapa hari status itu diperjelas, aku memutuskan untuk pergi. Bukan karena aku menganggap semua hanya permainan, tapi justru karena aku menyadari rasa yang ada benar adanya. Aku memutuskan untuk pergi karena aku tahu, aku tidak mungkin menjadi seseorang yang akan dia perjuangkan. Aku memutuskan mengakhiri kisah “abnormal” diantara kami, karena aku sadar ada seseorang yang lebih pantas untuk bahagianya. Meski dia pernah menegaskan, bahwa rasa yang ada untuk ku dan untuknya adalah sama, “tentang yang pertama dan ke dua itu hanyalah tentang waktu, jika keduanya sama-sama dari hati.” Meski logika ku menegaskan bahwa tak akan pernah ada hati yang bisa terbagi sama ratanya, hati ini tetaplah seperti “bocah”--polos, naif.

Sepotong Surat

Bear,
Mungkin kita pernah melakukan kesalahan, yang pada dasarnya kita tahu itu salah tapi tetap saja kita berpura-pura menutup mata. Mungkin kita pernah sama-sama mengingkari janji setia pada hati yang telah bersetia pada kita. Tapi, aku yakin dari sana kita belajar menghargai. Menghargai apa yang kita punya. Aku mungkin pernah begitu kecewa padamu, tapi kau tahu... saat itu juga aku sadar apa arti dari “menyukai seseorang”.
Tanpa kau sadari, kau mengajariku banyak hal, meninggalkan cerita tersendiri. Mungkin tidak begitu banyak kenangan, tapi banyak bahagia.
Bear, kau tahu, aku sangat ingin mengahdiri pernikahanmu hari itu. tapi aku tak ada nyali menunjukkan muka ku di hapan perempuan hebat yang berdiri di sampingmu. aku hanya bisa mendoakanmu dari jauh. Aku bahagia, tak terhingga, akhirnya kalian dipersatukan dalam ikatan suci. Aku yakin kau akan menjadi lelaki yang baik untuknya. Dari awal aku sudah tahu itu.
Bear, sampaikan salam ku untuknya. Aku kagum dengannya. Meski aku tak pernah begitu akrab, aku tahu dia adalah perempuan yang tepat untukmu. Sejak awal aku selalu mendoakan kalian. Sejujurnya... aku pun sangat ingin meminta maaf padanya. Oh iya, kalian jangan salah paham atas apa yang kulukiskan ini, aku tak bermaksud apa-apa. Aku hanya sangat ingin mengungkapkan betapa aku bahagia melihat kalian bersama. Semoga selamanya.
Suatu hari kita mungkin akan bertemu lagi, saat itu aku yakin kalian telah menghadiahkanku keponakan yang lucu dan se-keren kalian berdua. Aku jadi berpikir, mungkin suatu hari jika Tuhan meberiku jodoh dan keturunan di dunia ini, kita bisa menjadi besan, hahhahahaha.
Terakhir, aku ingin berterimakasih atas semuanya. Dan sekali lagi, aku bahagia untuk bahagia kalian.

-badut-


Epilog  

mungkin tidak ada cerita yang sempurna,
mungkin tidak ada cinta yang sempurna,
antara kau dan aku ...
tapi, ada bahagia yang sempurna,

dulu.

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)