Selasa, 24 Februari 2015

Hello Again

Hei..hooo...
*salam pembuka paling klise yang setelahnya akan disusul dengan permintaan maaf karena lama menghilang dari kanvas ini, kemudian berjanji akan rajin melukis lagi hahahahhaha dasar!!
Oke, baiklah saya tidak akan melakukan “ritual-minta-maaf-dan-janji” itu lagi. Saya akui, akan sangat membosankan kalau kalian harus menemukan ritual itu setiap awal tahun (sekitar Februari-Maret). Entahlah kenapa setiap akhir tahun harus ada yang benar-benar berakhir, seperti semangat melukis misalnya. Dan entahlah kenapa harus di bulan itu (sekitar Februari-Maret) semangat untuk melukis muncul kembali (*silakan cek riwayat lukisan di kanvas ini) (**modus pengen di stalking hahahhaha).

Nah, jadi sebenarnya saat ini saya sedang suntuk, mumet, pengen salto-salto gegara tugas akhir. Yah, mahasiswa tingkat akhir dengan segala ke-galau-annya yang klise. Tetiba saja secara sengaja menjelajah tumblr--galeri baru ku untuk memajang berbagai lukisan absurd. Bukannya bermaksud tidak ingin setia dengan kanvas ini, tapi selang beberapa bulan yang lalu saya benar-benar alergi mengunjungi kanvas ini. Jadi di tumblr saya sempat membaca beberapa postingan teman yang akhirnya mengingatkan saya akan kanvas ini. Kanvas yang malang, usang dan penuh dengan sarang laba-laba. 

Sebenarnya, niat untuk menutup kanvas ini sudah seringkali menggoda. Suatu hari, saat keinginan itu begitu kuat dan mulai nekat, seorang kawan mengabarkan ada yang titip salam katanya dari salah satu penikmat setia lukisan-lukisan di kanvas ini. beliau menanyakan kenapa tidak ada lukisan baru lagi. Jleb, rasanya campur aduk. Jadi ada juga ya yang bisa menikmati lukisan-lukisan absurd di kanvas ini. (*Buat kamu, terimakasih yah, berkat kamu saat itu saya tidak jadi membumihanguskan lukisan-lukisan ini). Rasanya seperti terselamatkan dari aksi bunuh diri. Ya, untuk apa juga saya menutup kanvas ini? Kanvas yang setia ku corat coreti, tempatku menumpahkan berbagai warna dengan tarikan kuas yang mengalur ngidul sesuka hati. Nah, saat itu saya memang terselamatkan dari “aksi bunuh diri”, tapi jemari ini masih enggan melukis. Yang ada hanya membuat “lukisan cetakan”. Ada surat lama yang saya posting, unuk mengingatkan seseorang, ada lirik lagu yang saya copy paste, beberapa bait puisi (*ini kesambet malaikat kali yak, tumben aja) dan sepotong lukisan yang tak usai.

Tahun pun berganti, Januari selalu membawa harapan dan semangat baru. Ada seseorang yang membuat pengakuan telah membaca habis seluruh lukisan di kanvas ini. Wew, daebakkk, amazing, luar biasa!!! And then... saya buru-buru mengingat-ingat selama ini telah melukis apa saja?? *tepok jidat* || Jadi, beliau malah berterimakasih karena blog ini sedikit banyaknya memberikan referensi tentang saya *uuhhuuuukkk* untuk cerita lebih lanjutnya akan saya lukiskan khusus di kanvas khusus hehehhehe. 

Singkat cerita, saya semakin mantap untuk tidak menenggelamkan kanvas ini. Yah, ini adalah jejak yang sudah saya buat, hitam putih lukisannya biarlah seperti itu, tak ada yang patut ku takutkan, tak ada alasan untuk sekedar trauma apalagi menyesal. Biarlah semua pada tempatnya, tersimpan rapi sebagai kenangan dan bahan renungan. Bukankah apa yang telah terlewati itu adalah “rem” bagi langkah kita selanjutnya? Bukan kah tujuan awal melukiskan pikiran dan rasa adalah jalan untuk belajar? Ah, terlalu naif rasanya jika hanya karena satu kejadian yang tak mengenakkan, saya harus menenggelamkan kanvas yang sudah menemani sekian lama.

Well, welcomeback Pelukis Malam!
Nice to see You again. Welcome to our home.
Mari kembali menjelajah malam, demi hari dan hati yang lebih baik.    

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)