Selasa, 10 Februari 2015

Catatan Pulang Kampung #1

Sabtu, 20 Desember 2014—subuh itu aku terbangun, terhentak di depan laptop. Aku belum menyelesaikan beberapa gambar yang harus aku print; beberapa pohon dan puluhan lembar daun. Ku coba untuk menyelesaikannya satu per satu. Tidak lupa pula aku mengecek file film yang aku download semalaman. Damn it! Ternyata file nya rusak. Aku panik. Lalu segera aku mencari-cari link yang lain untuk download ulang film itu. begitulah hingga jam menunjukkan pukul 08.30. BBM pun tak henti berkicau, Kak Yayyi sudah mengingatkan kami di group. Kita sepakat akan berangkat ke Kahayya hari ini, tepat pukul 09.00.

Pukul 09.03 aku tiba di Kepo (Kedai Pojok). Tempat ini menjadi tempat yang paling sering ku kunjungi saat pulang ke Bulukumba sejak liburan semester lalu. di tempat ini pula berbagai ide-ide dikumpulkan dan diaplikasikan. Ada energi yang luar biasa kutemukan di tempat ini. Energi yang akhirnya membuatku betul-betul merasakan rindu untuk pulang.
Kak Yayyi, adalah orang yang paling bertanggung jawab atas semua energi itu. Beliau lah yang selalu bisa mengumpulkan dan membakar energi yang meluap-luap. Mencoba mengajak kami, para pemuda lokal untuk berbuat sekecil apapun itu untuk Bulukumba tercinta. Ide-ide tak pernah kering di tempat ini. seperti sungai Balantieng yang terus mengalir dan menghidupi. Seperti itulah sejatinya orang muda, ide dan aksi. Bukan rencana yang sekedar wacana. Bersyukur, Tuhan mempertemukan ku dengan sosok hebat seperti Kak Yayyi. Pulang kampung bukan lagi sekedar ritual menggugurkan kewajiban anak pada orang tua. Pulang kampung kini menjadi hal yang paling aku nanti-nantikan.


Setelah beberapa menit duduk sendiri di Kepo, akhirnya Fitri dan Idhar datang juga disusul Kak Feri dan Mehdi. Fitri, sahabatku sejak SMP (aku sudah pernah melukiskannya di kanvas ini). Idhar, pertama kali bertemu adik ini di kegiatan #BulukumbaBerbagi, rame dan selalu jadi korban bully hehehhe *nasib jadi adik bungsu. Kak Feri, kakak tingkat di bangku SMA; dulu tidak beitu akrab karena berbeda sekte hehehhehe. Mehdi, imigran Pakistan yang sudah setahun ini menetap di Makassar. Kami, dengan berbagai latar belakang tergabung dalam MovementProject-ID memiliki visi yang sama yaitu mendampingi desa-desa tertinggal menuju desa yang mandiri. Kahayya menjadi pilot project kami. Dan sebagai langkah awal, kami akan menyentuh sektor pendidikan anak-anak sebelum mendampingi masyarakat dalam menjaga dan mengelola sumber daya alamnya.

"Perjalanan kali ini pasti seru..!", gumamku dalam hati.

*to be continue . . .

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)