Minggu, 07 Desember 2014

Bapak

Ada sosok lelaki yang selalu ku rindukan, selalu ku doakan sehat dan bahagianya. Ada lelaki yang paling ku takutkan kepergiannya.
Bapak.

Aku tidak tahu bagaimana memulai lukisan ini. melukiskan tentang sosok Bapak membuat pagi yang cerah ini dihujani air mata. Ada kerinduan mendalam di setiap tetes nya. Hari ini, aku menghitung usia yang menggenapi setiap langkah Bapak. Aku mengulur waktu ke beberapa langkah ke belakang. Masih teringat jelas saat Bapak menggendong ku, mendekapku dengan hangat. Aroma keringatnya masih jelas diingatanku. Saat-saat menenangkan itu, aku sering memegang daun telinga bapak, hingga akhirnya tertidur dalam dekapannya.

Aku lahir tanpa kehadiran Bapak di sisi Ibu.
Saat itu Bapak sedang melaksanakan tugas di Jakarta. Mungkin karena itu kami berdua memiliki rindu yang abadi. Saat aku masih bayi hingga balita, aku sering sakit-sakitan ketika Bapak jauh dariku. Dulu, ditengah kesibukan Bapak di kantor Bapak juga menlanjutkan kuliah s1 nya di Makassar, alhasil aku sering ditinggal. Kata ibu, ketika Bapak berangkat ke Makassar aku seperti kehabisan battery, yang biasanya ceria dan main ke sana ke mari tiba-tiba lemas dan cuma berbaring di kamar dan biasanya tidak lama kemudian demam sudah menemani ku. Hingga hari ini, ada rindu abadi yang selalu menghubungkan ku dengan Bapak. Apapun yang kurasakan, Bapak bisa merasakannya tanpa ku ceritakan. Pernah di suatu pagi aku merasakan sakit karena seseorang mengecewakanku begitu dalam. Tetiba saja Bapak menelpon ku, suaranya bergetar tak seperti biasanya. Seperti menahan sakit. Bapak hanya menanyakan kabarku. Suaraku pun bergetar mengatakan aku baik-baik saja. Seolah Bapak telah paham dengan semua dakit ku, Bapak segera mengakhiri pembicaraan. Satu pertanyaan singkat, yang membuat kami seperti telah berbincang semalaman. Begitupun saat aku jatuh sakit, saat bahagiaku, saat galau tesis, hehehehe... Bapak pasti selalu hadir. Aku tidak begitu terbuka dengan Bapak menceritakan segala curahan hati, tapi Bapak selalu tahu apa yang kurasakan. beberapa bulan yang lalu, aku sempat membuat Bapak cemas, karena aku tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Sebenarnya bukan aksi melarikan diri hehehehe, tapi aku tahu aku tidak akan mendapatkan izin. Aku melakukan pendakian ke Gunung Semeru tanpa memberitahu Bapak dan Ibu,hanya kakak yang tahu [sedikit keceplosan di malam sebelum berangkat] (lain kali akan ku ceritakan tentang pendakian ini). Aku membuat Bapak sangat cemas saat itu [maaf], tapi bapak sudah merasa aku sedang melakukan perjalanan tapi Bapak tidak tahu aku dimana, Bapak bahkan sempat mempikan ku di subuh hari. bapak melihat ku di atas puncak gunung berteriak kegirangan. Dan benarlah tepat di subuh hari itu aku mencapai Puncak Mahameru dan berteriak kegirangan, menangis dan mendoakan Bapak dan Ibu setelah melaksanakan sholat subuh.

“alasan mengapa anak perempuan begitu mencintai Ayahnya adalah bahwa setidaknya ada lelaki di dunia ini yang tidak akan pernah menyakitinya.”
Father,
A daughter’s first love.

Bapak, sosok yang paling mengerti apa yang ku inginkan. Sejak kecil aku termasuk orang yang tidak asertif. Aku susah mengungkapkan apa yang ku rasa dan aku inginkan. Bahkan saat aku masih kecil, harus Bapak yang membuatkan ku susu baru aku minum. Bapak tahu betul cara membuat susu yang aku suka, tidak panas dan tidak dingin [hahhahhaha aku memang agak rempong dengan selera]. Dan indera pengecapku pun seperti dianugarehi detektor canggih dari Yang maha Kuasa. Aku tahu jika susu itu bukan buatan Bapak. Pernah suatu waktu aku dibohongi, yang membuat susu adalah tante tapi yang membawakan adalah Bapak. Mungkin saat itu Bapak masih capek pulang dari kantor sementara aku sudah merengek minta susu. Baru satu isapan dari dot ku, aku sudah tau ini bukan buatan Bapak. Aku mengamuk dan melemparkan dot itu ke dinding. Aku menangis sejadinya. Semua kekacauan itu baru reda saat Bapak benar-banar membuatkan ku susu, kemudian menenangkanku sampai tertidur. Begitulah akhirnya tidak ada yang berani membohongiku lagi soal susu. Jadi, setiap kali aku minum susu haru Bapak yang buatkan. Dan orang yang paling bahagia karena kelakuanku ini adalah ibu hehehehe, ibu tidak perlu bangun tengah malam hanya untuk membuatkan susu, tugas diambil alih oleh Bapak hehehehe.

Dalam perjalanan pertumbuhan dan perkembanganku sebagai anak, tak jarang juga aku memiliki pendapat yang berbeda dengan bapak. Keinginan yang berbeda lebih tepatnya. Tapi aku tetap tidak bisa menentang Bapak. Bagiku suara Bapak adalah suara Langit. Tapi, dengan konflik-konflik batin seperti itu, aku jadi sadar benarlah bahwa suara orang tua itu suara langit, hidayah Allah SWT turun lewat orang tua, petunjuk orang tua adalah petunjuk Tuhan. Aku bisa merasakannya sekarang, bagaiman setiap keberhasilan jalan yang kita tempuh, tidak lain adalah doa dan ridho orang tua.
Hari ini, 8 Desember. Bapak berulangtahun. Sejak beberapa hari yang lalu aku sudah wara wiri memberitahukan ke teman-teman serumah bahwa Bapak akan berulang tahun agar aku tidak lupa. Saat terbangun tadi aku langsung mengirimkan sebait doa untuk Bapak. Dan di “aamiin” kan oleh beliau. Aku pun menangis sejadinya. Aku sangat ingin memeluknya, seperti yang beliau lakukan saat hari ulangtahunku. Menghadiahkan pelukan di saat kau terbangun dan baru menyadari hari ini usia telah menggenapkan langkah perjuangan. Dulu, setiap subuh aku seperti sudah ter-setting  otomatis terbangun sebelum adzan subuh lalu dengan mata yang masih tertutup aku melangkah keluar kamar dan mengetuk pintu kamar Bapak dan Ibu. Biasanya Ibu yang akan membukakan pintu, lalu aku berjalan dan segera mengambil posisi ditengah mereka, bersembunyi dibawah ketiak Bapak, mendekap hangat dan aroma tubuhnya. Begitu setiap hari hingga aku di bangku SMA. Kebiasaan itu berhenti setelah aku harus tinggal terpisah dengan beliau.

Bapak, tak banyak kata yang ku ungkapkan untuk sekedar melukiskan rasa sayangku dan bangga ku pada mu. Tak cukup kata bahkan jika ku kumpulkan seluruh lautan kata di dunia ini untuk mengungkapkan semua itu. hanya peluk cium dan doa yang mampu ku lakukan.
Selamat milad Bapak, semoga sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT, semoga diberkahi umur yang bermanfaat dan diberikan ketenangan.
Aamiin.


Aku selalu merindukanmu, Bapak.  




2 komentar:

IchaNFH mengatakan...

Semoga umur bapaknya berkah ya :)

pelukis malam mengatakan...

Aamiin..
terimakasih Icha :)

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)