Minggu, 16 November 2014

Perang Kita

Perang memang selalu menyisakan luka
Meminta berliter-liter darah
Bahkan tak jarang nyawa harus terlepas

Duka menjadi suatu keniscayaan setelah perang
Kita tahu itu
Tapi kita lebih senang memikirkan ego

Perang kita kembali meledak
Mungkin benteng pertahanan itu lelah
Membiarkan semua peluru dan bom meledak

Serdadu serdadu maju dengan gagah berani
Memuntahkan semua peluru amarah dan luka nya
Bak pasukan berani mati
Logika tak lagi jalan

Perang kita pun di akhiri dengan gencatan senjata
Meski satu kubu masih tak ingin berakhir
Masih banyak tanya yang belum ia tuntaskan

Perang kali ini pun seperti perang kita biasanya
Menyisakan luka
Perih
Tak terkira

Luka menganga seperti meneriakkan duka yang mencekam
Kota pun seperti mati
Sepi
Tak berpenghuni

Tapi aku masih bisa tersenyum

Mungkin karena masih ada yang tersisa
Dan tak terkikis oleh dentuman senjata

Harapan

Cahaya itu masih berpendar
Dalam kalbu

Cahaya keyakinan akan hari esok
Yang lebih baik

Seperti yang selalu kau katakan
"Seorang ksatria tak akan mati dengan satu tusukan"

Selalu ada harapan
Yang membuatnya hidup

17 November 2014
*kantin FMIPA UM
**kontemplasi di hadapan mie instan dan telur rebus

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)