Minggu, 21 September 2014

Selamat Milad LPM Penalaran UNM

Selamat pagi, senin. Tidak biasanya saya bangun pagi se-sumringah ini karena menatap layar smartphone (setidaknya untuk beberapa bulan terakhir ini). Bukan karena pesan atau chat dari seseorang hehehehhe. Tapi karena melihat riuh suka cita ucapan selamat harlah LPM Penalaran UNM bertebaran di berbagai sosial media. Ada yang mem-posting ucapan-ucapan simpel, ada yang berpuitis romantis, mengharu biru, atau sekedar mengunggah foto dan video yang menjadi kenangan tersendiri. Aaaahhh, andai bisa akan ku unggah seluruh kenangan ku juga. Tapi sayang terlalu banyak dan terlalu berat untuk ukuran kecepatan internet di Indonesia hahahha. Akhirnya aku lebih memilih kanvas ini untuk melukiskan perasaan ku saat ini sebisaku. Jika gambar bisa mewakili ribuan kata. Bagiku kata bisa lebih mewakili rasa yang tulus dan halus [meminjam istilah seseorang heheheh].

“Dipaksa” Menjadi Penalaran
LPM Penalaran UNM, skenario Tuhan memang sangat amat sempurna hingga membawaku ke tempat ini. Awalnya, aku benar-benar tidak ingin masuk lembaga ini. Bukan karena aku tidak tertarik dengan dunia riset dan kepenulisan, tapi karena keberadaan “kakak” ku [hahahhaha, sepertinya ditulisan ini saya akan banyak mengungkapkan pengakuan dosa]. Ya. Aku merasa tidak nyaman jika harus satu organisasi dengannya. Seperti saat ingin masuk SMP dulu, aku rela tidak mellanjutkan pendidikan ke sekolah yang banyak didaftari teman-teman SD ku karena aku tidak ingin satu sekolah dengan ibu ku yang notabene mengajar di SMP tersebut. Aku merasa tidak bebas jika harus ada bayang-banyang keluarga. Tapi, Darul, kakak ku yang saat itu lumayan sangar, mengeluarkan statement “daftar ko nah!” yang seketika rasanya aku dapat titah dari langit yang tidak bisa kulanggar. Akhirnya Eva jadi korban. Eva, teman SMA sekaligus housemate yang manis, baik hati dan suka masak [promote]. Aku tidak tahu, mungkin jika Eva tidak serumah dengan ku, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di LPM Penalaran. Ya. Dia yang mengurusi segala macam berkas untuk pendaftaran anggota baru kala itu. Bahkan ditengah-tengah proses menjadi anggota penalaran, dia yang selalu menyemangati. Saat aku berada dititik malas dan ingin mundur. kecuali saat menerima materi di forum PMP, aku bisa lolos dari ocehannya dan pastinya bisa tidur dengan nyenyak hahhahah. Aku ingat, di suatu malam, saat deadline pengumpulan laporan hasil penelitian, aku berbaring di kamar Eva, dia juga berbaring di sampingku. Mungkin kami lelah. Tugas penelitian kelompok dan individu telah menyita waktu kami 2 bulan terakhir ini. Belum lagi aktivitas akademik, sebagai mahasiswa baru betul-betul amat sangat membuat otak dan tubuh kelelahan, ini belum ditambah dengan masalah hati [hahhahahha no CurCol!!!]. saat itu, aku mulai mepengaruhi Eva untuk menyudahi semua kelelahan itu. Berbagai kata ku olah untuk membujuk Eva. Tapi sepertinya Eva dijaga oleh malaikat yang pada akhirnya justru dia mampu membangkitkan semangat ku untuk terus melanjutkan perjuangan kami.. Aah, Eva aku ingin memelukmu.

Aku sering iri dengan calon-calon anggota yang ku wawancarai saat proses seleksi, mereka punya motivasi dan semangat yang luar biasa untuk bisa menjadi anggota di lembaga ini. wawancara-wawancara itu melemparku kembali dalam kenangan saat-saat aku seperti mereka. Aku sama sekali tidak punya motivasi dan semangat. Namun, pada akhirnya Bilik Nalar [begitu para pendahulu meneybut sekretariat lama UKM ini] menjadi semacam tempat pelarianku dari penatnya kuliah-kuliah yang membosankan. Ya. Aku tidak pernah menginginkan kuliah di kampus orange [lain kali akan aku ceritakan]. Setiap selesai kuliah aku langsung menuju Bilik Nalar. Ketawa, curhat, main uno, masak-masak, makan bersama, foto-foto, bahkan nonton drama korea juga bisa menjadi aktivitas ku di Bilik. Tentu saja aku masih jauh dari aktivitas kepenulisan saat itu. Aku seperti menemukan oasis ditengah keringnya aktivitas akademik di kampus. Namun, dari aktivitas-aktivitas itulah aku menemukan kembali kesadaranku untuk memperbaiki kuliah yang berantakan. Sebagai mahasiswa baru yang pada umumnya masih memiliki semangat yang membara dengan nilai-nilai berkisar A dan B, aku justru mengoleksi rantai karbon alias C bahkan D. Aku bertemu dengan kakak kakak yang hebat di Bilik, pertanyaan-pertanyaannya yang mendobrak kemalasan dan rasa marahku, berhasil membuatku menyadari betapa bodohnya yang kulakukan selama ini, mengabaikan kuliah.
Akhirnya saya pun mulai serius mengikuti kuliah [adapun kelalaian dan nilai C berikutnya semata-mata karena khilaf dan keterbatasan saya saja hahhahah]. saya pun mulai mengikuti ritme di Bilik Nalar, ikut mendengarkan diskusi-diskusi alot para tetua, bagaimana mereka menyampaikan gagasan dan pendapatnya, hingga akhirnya saya terlibat kepanitian dan memiliki kesempatan menindas Kak Udin [evil laugh]. Kak Udin, mungkin akan ku ceritakan dalam tulisan tersendiri untuk melukiskan sosoknya yang abstrak dan random.


“Bilik” bertransformasi menjadi “Rumah”
Sikap birokrat yang PHP mengharuskan kami hengkang dari PKM (pusat kegiatan mahasiswa), dan memilih ber-sekretariat di luar kampus. Di “Rumah” ini saya “tumbuh” dan berkembang. Tumbuh karena di sini lah tempat yang kutuju saat momen “akhr bulan” yang begitu mengenaskan hihihihihi. Karena di rumah ini kita tidak pernah kelaparan J meski itu sepotong tempe atau ikan kering. Tapi, kalo hasil jebakan batman kita berhasil menjerat seorang kakak yang baik, makan malam dengan semangkuk coto akan menjadi penutup hari yang indah. Ibarat fase perkembangan manusia, di Rumah ini saya berada pada fase labil. Seperti kebanyakan remaja, dinamika hidup terasa sangat amat mengenaskan, kasus-kasus kecil bisa dibesar-besarkan dan terasa sangat mengecewakan. Semua terasa seperti “aku lah orang yang paling menderita”.  Seperti remaja yang punya banyak tekanan dan kecewa, akhirnya minggat dari rumah. Begitupun aku yang menghilang di saat aku mengemban tanggung jawab sebagai pengurus. Ku cari kesibukan yang lain, bekerja sebagai pengajar. “Rumah tetap lah rumah, tempat kita kembali pulang”---bagaimana pun aku berusaha menahan diri untuk tidak lagi ke Rumah Nalar, pada kenyataannya aku tetap menyempatkan diri untuk sekedar duduk di ruang tamu menikmati martabak atau gorengan bersama kakak-kakak yang masih begadang. Ya aku berkunjung d saat Rumah sudah sepi. Meski lelah setalah kerja seharian, Rumah Nalar tetap bisa memberikan kebahagiaan tersendiri.

Penuaan itu Pasti!
Aah, andai bisa aku ingin tetap menjadi adik bungsu. Adik bungsu di Rumah Nalar. Tapi, penuaan itu pasti! Aaaah bocah-bocah pun bermunculan dan mulai memanggil ku kakak lalu cium tangan jika salaman. Itulah hidup, suka tidak suka, mau atau tidak, hidup akan terus bergulir, waktu tetap berjalan. Menjadi “kakak” ternyata punya beban moral tersendiri, tanggung jawab pun semakin bertambah. Tapi sebenarnya aku belum menjadi “kakak” yang sebenarnya, jiwa kekanak-kanakan masih sering muncul [maafkan aku]. tapi, pada akhirnya semua itu adalah proses untuk mendewasakan kita.
Aku tidak mau terlalu panjang membahas penuaan, sensi ciiin!

Seuntai Kata Setulus Makna
Penalaran, jika aku diminta menyebutkan satu kata yang mengambarkan Penalaran, maka akan kusebut ia “Rumah”. Didalamnya akana ada banyak peran, yang suatu hari kita mungkin masih menjadi bayi di rumah itu, hingga akhirnya menjadi orang tua. Rumah yang di dalamnya ada konflik, tawa, canda, dan tangis. Rumah yang selalu menyediakan kehangatan dan energi baru. Rumah yang penuh mimpi dan kenangan. Rumah yang menjadi tempatmu menemukan cinta.

Di rumah itu, aku belajar mengenali diriku dan orang lain. Aku belajar memaafkan diriku dan orang lain, belajar mencintai diri ku, dia dan mereka.

Rumah Nalar bukan hanya tempat berbagi prestasi, tapi juga mimpi dan semangat yang tak pernah padam. Energi yang tak ada habisnya selalu tersedia di Rumah itu.

Rumah Nalar bukan hanya tempat penempaan logika, rasionalitas dan keilmuan, namun juga rasa, cita, dan cinta.

Penalaran, betapapun dinamika berlembaga dan persaudaraan pernah menggoreskan luka, aku tetap tak pernah bisa lupa dan padam untuk mencintai “rumah” ini. Betapapun dinamika kampus dan hidup di luar begitu bengis dan sadis, rumah ini selalu menjadi tempat pulang. Aku selalu rindu dengan sofa nya yang selalu bolong dan daun pisangnya.

Penalaran, aku menyesal tidak betul-betul memanfaatkan kesempatanku selama menjadi anggota. Tapi ku maafkan diriku, karena itu menjadi prosesyang pada akhirnya memberiku pelajaran berharga tentang tanggung jawab dan kepercayaan.

Penalaran, aku tak henti bersyukur pernah menjadi bagianmu.
Kepada adik-adik, di tangan kalian lah rumah ini kami titipkan. Semoga cita dan cinta itu selalu kalian jaga.


“Air memang tak se-kental darah..” tetapi persaudaraan tetap bisa terjalin tanpa ikatan darah, dengan berbagi air minum misalnya hehehehhe.

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)