Rabu, 25 Juni 2014

Sunyi itu bernama Ramai

Kapan sesungguhnya kita merdeka?
Kata Pramoedya A. Toer, kita merasakan benar-benar merdeka dimulai dari pikiran kita. Jika pikiran kita saja tak bisa merasakan kebebasan maka diperbudaklah kita. entah diperbudak oleh siapa atau apa. Lalu kenapa kita masih saja suka diperbudak. Baguslah jika kita tidak menyadarinya, tapi sepertinya sebagian besar dari kita menyadari bahwa kita diperbudak. Lalu kenapa kita mendiamkannya. Mungkin karena kita nyaman. Atau kah dipaksa nyaman?
Dunia memaksa kita tenggelam dalam hiruk pikuknya. Di jaman yang serba global ini, membuat batas tak lagi berarti. Begitu pun dengan batas antara diri yang ada dalam diri kita dengan dunia luar.
Tak bisa dipungkiri manusia adalah makhluk sosial. Meski di dunia ini manusia dikelompokkan menjadi temperamen ekstrovert dan introvert. Bagaimanapun, kita hidup tidak sendirian.
Hiruk pikuk dunia di luar diri kita, kehidupan sosialita, tak jarang mengaburkan identitas kita. Jangankan orang lain, kita sendiri pun terkadang tak mengenal diri kita lagi. Yang ada hanya kepalsuan.

Sesekali kita menjenguk, menengok jauh ke dalam diri kita. Apakabarnya jiwa ini? Masih kah bersih atau telah tertutup noda kemunafikan, atau mungkin telah dipenuhi luka.
Bertemu dengan diri kita akan memberikan energi baru. Membuat kita mampu mengenali dan menyelami siapa kita sebenarnya. Luka-luka jiwa yang ada, perlahan mampu kita sembuhkan bukan hanya serupa kepura-puraan seperti yang biasa kita lakukan. Menemukan diri kita jauh dalam kedamaian hati, membuat kita mampu menatap kedepan. Membiarkan api harapan kembali menyala.
Sometimes we need to see our self to feel what we feel, to hear what we said, to see what we want.
How to meet our self?
Cukup mundur beberapa langkah dari segala hiruk pikuk dunia. Bukan berarti mengucilkan diri dari keramaian [yang bersifat kongkrit] tapi menjauh dari segala keramaian [abstrak] yang ada di kepala ini.
Aku senang duduk di pinggir jalan raya seorang diri. Dulu, di kota ku, aku senang bertengger di pinggir jalan protokol tak jauh dari kampus ku. Ditemani segarnya air kelapa aku hanya duduk mendengarkan berbagai macam mesin bermotor lalu lalang di hadapnku. Seseorang pernah bertanya, "Apakah kau tak merasa tempat itu sangat bising?". Tidak. Bagiku, kebisingan yang berkumpul menjadi satu akan lenyap seketika. Pendaran lampu berwarna warni yang melesat dihadapan ku menjadi satu. Seperti permainan spektrum cahaya kala di bangku SD. Berbagai warna pada media kertas, ketika kita memutarnya dengan sangat kencang hingga membuat kita fokus pada titik itu, maka yang terlihat hanya satu, putih. Seperti itulah, aku menelusuri kedamaian di tempat ramai. Seperti itu aku mencoba fokus. Fokus berbicara dengan self ku. Hingga ku temukan senyumnya.

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)