Rabu, 21 Mei 2014

untuk si penulis surat

Kau pernah marah ketika Pak Pos tak kunjung datang mengantarkan surat ku. Kau pernah kecewa karena akhirnya surat ku datang namun membawa luka.

Aku pernah begitu kaget bercampur senyum ketika suratmu tetiba hadir di meja ku. Saat itu aku tak berhasil memberi terimakasih pada Pak Pos. Berikutnya, aku sangat menantikan ketukan pintu dan teriakan Pak Pos menghantarkan rindumu. Bulan berganti seperti siput yang mencoba berlari. Pak Pos tak kunjung datang.

Mungkin kata mu menjadi beku karena tak berbalas. Tapi, tahukah kau terkadang perempuan suka menguji ketulusan, termasuk kata. Bagiku, penulis surat adalah ia yang sabar dan tulus. Terus mengirimkan huruf demi huruf, mengirimkan rasa yang disembunyikan di setiap spasi antarkata yang ditorehkan pada selembar kertas putih, tanpa mengharap balasan. 

Mungkinkah aku kejam? membiarkan mu menunggu balasan yang entah kapan...

Aku menunggu...
Tahukah kau rasanya menunggu?
Bahkan menunggu suratku pun kau dikalahkan waktu...
Lalu, bagaimana kau bisa merasakan arti menunggu seperti yang ku rasa ?

Lalu mengapa bukan aku saja yang menjadi penulis surat? Bertanya-tanya aku dalam diriku.

...
Mungkin aku terlalu berharap tanpa bercermin.

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)