Senin, 31 Maret 2014

Kematian dan Rindu

Apa yang lebih menyedihkan dibanding kematian? Bagiku, kematian adalah hal yang paling menyedihkan. 

 sejak kecil aku telah sering menyaksikan kematian. pertama, kematian kakek atau yang sering ku panggil "nenek botak". di sulawesi selatan baik kakek ataupun nenek biasanya sama-sama dipanggil "nenek". meski waktu itu aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak, tapi kesedihan mendalam tetap membekas hingga saat ini. masih teringat jelas wajah kakek lengkap dengan kopiahnya saat beliau datang membawakan pisang goreng. kemudian aku hanya menatap punggung beliau yang duduk di kursi ruang tamu dengan gaya khas nya. setelah itu beliau pulang dan benar-benar pulang ke pangkuanNya. sekeras apapun aku mengingat wajah kakek, sesering itupula punggung kakek membayangi. aku mengenal kakek hanya sampai wajah, senyum dan punggung terakhir itu. aku pernah bertanya dalam doa mengapa aku tak diberi kesempatan tumbuh bersama kakek. astagfirullah.. aku sadar pertanyaan itu berlebihan. maafkan aku Tuhan. menjadi cucu kakek pun aku sudah sangat bersyukur. di hari kakek pergi untuk selamanya, aku tak meneteskan air mata meski saat itu semua orang ku lihat mengalirkan airmata yang deras bahkan meronta. hari itu pertama kali ku saksikan duka mendalam.  airmataku pun sebenarnya mengalir deras dalam batinku bahkan sampai hari ini. setelah kakek pergi aku lebih jauh mengenalnya lewat cerita-cerita dari bapak. bagiku kematian kakek mungkin terlalu cepat tapi menurut bapak kematian kakek adalah kematian yang indah. Kakek menghadap Ilahi seperti apa yang selalu kakek ucapkan dalam doa, di usia 60an dan di hari jumat. semoga kakek diberi tempat terindah. aamiin.

setelah kakek, aku menyaksikan kematian saudara-saudara bapak, saudara ibu, kakek dan nenek ibu, dan mamanya bapak. semuanya meninggalkan duka tersendiri. ketika nenek (mamanya bapak) atau yang biasa ku panggil "nenek mama" memenuhi panggilan pulang dari Sang Pencipta aku merasakan kesedihan berlipat. sejak kecil aku terkenal pendiam di kalangan keluarga. maka interaksi dengan nenek mama pun bisa dibilang kurang dibanding sepupu-sepupuku yang lain. tapi, hari itu air mata ku tumpah dihadapan jenazah nenek mama sesaat sebelum dikuburkan. mungkin karena aku merasakan dua kesedihan, kesedihanku sendiri dan kesedihan bapak.

kematian adalah keniscayaan bagi yang bernyawa. tak peduli ia keluarga, guru, teman, tetangga, atau pun orang yang mungkin tak pernah kita temui. maka Juli 2013 pun menjadi bulan berduka bagiku karena pada bulan itu, aku rapuh se-rapuh-rapuh-nya. aku harus menerima kenyataan bahwa tante jumi, perempuan yang setia menemaniku tumbuh hingga usia 23 harus pergi untuk selamanya. hari itu 1 ramadhan. hari pertama puasa. setelah membantu ibu menyiapkan makanan buka puasa, aku menunaikan shalat ashar. sebelumnya aku sudah diberi kabar bahwa kondisi tante jumi kembali parah. beliau telah dirawat di rumah sakit selama 2 bulan karena mengidap paru-paru basah. setelah menurut dokter cairan dari paru-parunya telah dikeluarkan semua, tante jumi diijinkan pulang ke rumah. Maka hari itu, dalam doa ku pinta yang terbaik untuk tante jumi, bahkan jika itu adalah kembali ke pengkuanNya. tetiba kulihat sosok tante jumi berdiri dihadapnku dengan senyumnya, tak sadar air mataku mulai menetes. suara bapak dari ruang tengah kemudian menarik perhatianku. beliau terdengar panik. aku sudah tak mendengar jelas apa yang bapak bicarakan ditelepon, yang kurasakan tubuhku lemas seperti ada yang merontokkan tulangku. mukena ku pun basah karena air yang tumpah dari mataku. aku terbaring di atas sajadahku, saat ibu masuk dan memeluk ku membisikkan bahwa tante jumi telah menemui ajalnya. jantungku berdegup kencang melebihi getaran tubuhku, aku berteriak meronta. ibu terus memeluk ku. rasanya dada ini sesak, hatiku seperti hancur berkeping jauh dan tak sebanding dengan hancurnya hatiku sebelum-sebelumnya. tak pernah ku rasakan perih seperti ini.

segelas air minum cukup untuk ku berbuka puasa. dengan satu ransel kecil berisi beberapa lembar pakaian aku dan bapak bergegas menuju pare-pare. malam itu menjadi perjalanan terlama yang pernah kurasakan. dari kaca mobil ku saksikan di luar sana sangat gelap, dengan hujan yang sangat deras diiringi sambaran kilat dan gemuruh guntur, persis dengan yang kurasakan saat itu. aku dan bapak tenggelam dalam diam dan tangis, tatapan kami jauh dan kosong berharap tubuh ini segera sampai di pare-pare. maka saat mobil berhenti di ujung gang, aku dan bapak turun tepat di depan bendera putih. lutut ku seperti tiba-tiba menghilang. aku tak mampu menopang tubuhku. bapak merangkulku dan menggenggam tanganku. bapak terus ber-istighfar. kami berjalan menyusuri gang pendek itu. di halaman rumah telah di penuhi orang-orang yang pandangan matanya semua tertuju pada kami. mata itu berbahasa sama. duka. aku semakin kehilangan kekuatan saat meniti anak tangga rumah nenek. dan saat aku tiba di pintu, kulihat tubuh tante jumi tertutup selimut. aku mendekat dengan kekuatan yang tersisa, begitupun bapak. penutup wajah tante jumi pun di buka. beliau tersenyum. subhanallah, bahkan hingga tante jumi telah pergi beliau tetap menyambut ku dengan seyumnya. seperti biasa saat ia menyambutku sepulang dari sekolah. aku pun menangis sejadinya sambil memeluk tubuh tante jumi yang telah kaku.

aku, setelah kepergian tante jumi, seperti ada yang kosong dalam jiwa ini. bahkan pengumuman kelulusan ku di suatu universitas pun terasa hambar. di suatu sore, bapak berkata padaku untuk kembali ke makassar. menurut bapak aku akan terus tenggelam dalam kesedihan jika terus berada di kota pare-pare. "bapak juga merasakan kesedihan yang sama tapi kita tidak boleh larut dalam kesedihan itu, tante jumi telah kembali menghadapNya. tante jumi sudah tenang di sampingNya. karena tante jumi tidak punya keturunan, maka kamu lah yang wajib mendoakan tante jumi agar tenang di alam sana. sedih itu normal, bapak juga sempat hilang kendali, rapuh. tapi kita sebagai orang yang ditinggalkan masih harus tetap berjalan." begitu nasihat bapak. maka setelah itu aku pun kembali ke kota makassar hingga akhirnya berada di kota ini, kota bunga--malang.

fisik ku kini ribuan kilometer dari tanah kelahiranku. rindu-rindu yang mengakar adalah hadiah dari kematian yang selama ini ku saksikan. rindu itu bukan lagi dari duka dan perih tapi dari kenangan. setiap detik yang terlewati bersama mereka telah tumbuh menjadi pohon kenangan dalam hatiku.

merindukan seseorang mungkin menyesakkan, namun ketika kita telah bersalin rupa dengannya atau cukup mendengar suaranya, rindu pun mekar menjadi bahagia. lalu, bagaimana dengannya yang tak lagi berada dalam dimensi yang sama dengan kita? rindu pun bisa melilit melemahkan. maka hanya dalam doa lah kita bisa memeluk mereka, melepas rindu. segala sesuatu ketika dikembalikan kepada Yang Maha Kuasa, maka kedamaian pun akan menjadi hadiah terindah. aku, saat ini pun masih belajar menerima kematian dan ketiadaan. seseorang pernah berkata padaku bahwa kematian hanya tentang perbedaan dimensi sedangkan eksistensi orang yang kita sayangi tak pernah terbatas oleh dimensi. kakek dan tante jumi telah berada dalam dimensi yang berbeda dengan ku, tapi jauh dalam relung hatiku tumbuh pohon beringin yang lebat. pada pohon itulah tersimpan kenangan tentang mereka. selalu.

"Dari Auf bin Malik ia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah SAW - setelah selesai shalat jenazah-bersabda:` Ya Allah ampunilah dosanya, sayangilah dia, maafkanlah dia, sehatkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air es dan air embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari kotoran, gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka."
(HR Muslim)

“Semoga kesejahteraan untukmu, wahai penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin. Sesungguhnya kami InsyaAllah akan menyusul kamu sekalian. Aku bermohon semoga Allah melimpahkan keselamatan kepada kami dan kepada kamu sekalian”.
[Hadis Riwayat Muslim]

3 komentar:

Ilham Hidayat mengatakan...

Keereen kak . Z senang dgn tulisanT', z mau mmbaca lbih sering lg, Tulisant" . . .

pelukis malam mengatakan...

Terimakasih Ilo, semoga bisa tetap menulis di kanvas ini... :)

pelukis malam mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)