Kamis, 13 Desember 2012

Aku, Pohon.

Aku, sederhana dalam inginku. Berharap semua berjalan biasa-biasa saja. “Biasa” sesuai dalam arti kamus hidupku. Aku, adalah salah satu makhluk hidup Tuhan, sama seperti makhluk hidup lainnya, diberi kemampuan untuk beradaptasi. Sejak kecil, aku telah belajar beradaptasi dengan semuanya.
Aku, seperti anakan yang kini telah mulai beberbentuk pohon. Aku, anakan yang telah terbiasa menyerap air dari sungai itu. Zat-zat kimia yang beredar ke seluruh tubuhku, aku tahu mereka berasal dari tanah ini. Ya, tanah tepat akarku bergantung. Energi cahaya dari matahari itu, aku telah terbiasa. Ku pikir, kalaupun di semesta ini ada Matahari yang lain, tak ada yang mampu menyamai energinya. Udara yang setiap hari kuhirup, aku juga sudah biasa. Oksigen, hidrogen, karbon dioksida, karbon monoksida, dan kawan-kawannya yang lain, aku telah terbiasa dengan mereka. Dulu, saat masih anakan, aku rajin mencibir anakan-anakan lain dengan berbagai pertanyaan. Mengapa mereka dikelilingi pagar bambu? Ada yang sangat rapat hingga aku tak bisa melihatnya sedikitpun. Ada juga, yang hanya dikelilingi beberapa potongan bambu hingga kami bisa saling bertukar sapa kemudian bersahabat. Pertanyaanku kemudian, mengapa mereka diberi pupuk kandang? Bukankah itu sangat tradisional dan menyusahkan?

Aku, anakan kecil yang tidak satupun potongan bambu berada di sekitarku serta pupuk anorganik yang sangat rutin ku konsumsi merasa berbeda dengan meraka. Tapi ini hanyalah masalah biasa atau tidak. Sekarang, aku bertumbuh menjulang ke atas dan ingin segera menyentuh awan-awan yang sejak masih anakan serring kuperhatkan mondar-mandir di atas, dipermadani birunya. Mungkin sekedar lewat atau jangan-jangan sedang mengawasiku? Ah, ingin segera kujabat tangannya dan menanyakan hal ini. Sementara itu, jaringan meristem ku mulai membentuk jaringan kayu.
Aku, pohon. Di suatu hari, kupandangi awan-awan yang sedang bertengger manis di permadani yang disebut langit. Hamparan karpet biru itu sedang cerah, tak ada angin tak ada hujan tetiba beberapa potong bambu memagariku. Pupuk-pupuk kimia itu berganti kompos. Aku bingung.
Aku, pohon, yang sejak anakan telah menerima semua yang kuperoleh sebagai suatu hal yang biasa. Karena menurutku, kebiasaan itu tak harus sama dengan orang lain. Kebiasaan hanya masalah frekuensi,  bukan objeknya. Aku sudah terbbiasa dengan pupuk kimia itu, aku [sudah] tidak butuh pagar bambu itu, dan yang terpenting adalah aku tidak pernah komplain atas semua itu. Semua sudah menjadi hal biasa bagiku. Apa yang kuserap dari tanah, udara dan matahari. Bagaimana cara tuanku merawatku hingga menjadi pohon. Itu sudah menjadi biasa bagiku. Lalu mengapa mereka (tuanku, red) seperti seoalah ingin mengurai waktu bergerak beberapa tahun ke belakang.
Aku, pohon, yang tumbuh dan berkembang menghasilkan buah sesuai dangan bagaimana aku ditanam. Aku pernah mencuri dengar dari seorang anak SD yang duduk berteduh dibawah daunku. Dia bocah imut dan gaduh. Mulutnya berkomat-kamit saat itu. Sepertinya sedang menghapalkan apa yang ada di buku yang ia pegang dan sekali-kali dijadikan kipas tangan. “Pertumbuhan itu sifatnya irreversible, artinya tidak dapat kembali.” Ya. Ucapan anak itu benar. Aku, pohon, tidak mungkn kembali menjadi anakan. Lalu, mengapa tuanku memperlakukan ku layaknya anakan. Mereka seperti ingin menyamakanku dengan anakan-anakan yang dulu sering kucibir. Benarlah bahwa apa yang di tanam itu juga yang akan dituai. Tapi, karena pertumbuhan itu bersifat irreversible, tidak dapat dikembalikan seperti ucapan bocah itu maka hendaknya persiapkanlah bibit yang unggul, dan rawatlah sebagaimana mestinya. Kelak ketika ia tak serindang pohon lain dan buah yang dihasilkan ternyata masam, bukan berarti harus menjadikannya anakan kembali kemudian memperbaiki perawatannya. Pohon tetaplah pohon, tak mungkn kembali jadi anakan lagi. Pohon telah mengerahkan segala kemampuan adaptasinya, baik dari segi morfologi, fisiologi, maupun tingkah lakunya hanya untuk bertahan dan meneruskan perkembangannya. Adaptasi itu akan terus dilakukannya hingga tiba saatnya mempersembahkan buah yang manis serta pohon yang kokoh nan rindang. Jadi, pohon hanya butuh ruang adaptasi hingga kelak berevolusi. Tapi, harus kita tahu bahwa evolusi membutuhkan waktu yang lama. Mungkin buah yang manis dan daun rindang itu akan sempurna ditemukan pada generasi ke-sekian.
Aku, pohon, ingin hidup seperti yang telah menjadi kebiasaan sejak anakan. Ini tentang biasa atau tidak biasa. Biasa ku mungkin tidak biasa bagi yang lain. Tidak biasa ku mungkin biasa bagi yang lain.
Sekali lagi, biasa itu hanyalah tentang frekuensi. Aku, pohon, sangat canggung ketika telah terbiasa dan mampu berdiri kokoh dengan apa yang kuperoleh selama ini tiba-tiba harus mendapat hal-hal yang tidak biasa.
Maka perlakukan sesuatu sesuai waktunya...

3 komentar:

Wawank mengatakan...

kereeen,

aku rumput yang ada dbawah teduhanmu

pelukis malam mengatakan...

kau, rumput, yang selalu memecah sepi...

andi aswin Salam mengatakan...

klo begitu saya adalah tukang yang akan "Duduk" bernaung di bawah mu saat lelah (rumput kan sdh jelas ada di mana, :P), dan akan membangun pondasi rumahku dengan batangmu kelak, Hhehe...

Just kidd my sist,,,
tetap berkarya >_<

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)