Rabu, 03 Oktober 2012

Pupus


Ting... tong...
Ting... tong...
...
5 menit.
23 menit.
Ku pencet bel itu lagi.
Ting... tong...
Belum selesai bel itu berbunyi, terdengar langkah seseorang menuju ruang depan rumah sederhana berwarna biru ini.
Deg...
Dada ku berdegup kencang. Ya. Hari ini momen terbesar bagiku. Puncak dari segala pertarungan pikiran dan rasa. Setelah semalam ku putuskan menolak seseorang memasangkan cicin di jari manisku. Demi kisah cinta pertama yang selalu kujaga sejak 9 tahun lalu. Ku hadapkan rasa yang selama ini terpendam pada pintu kayu yang mulai bergerak perlahan. Seperti apa dia sekarang?
Ku pandang sosok yang berdiri di depanku. Kutatap senyum itu.
“Maaf, Ryan ada?”
“Maaf mba, mas Ryan lagi keluar beli susu buat Aldo.”
Perempuan itu menatap dan mengusap-usap kepala bocah 2 tahun yang mendekap di kakinya.
“Mba ini siapa ya? Temen kantornya?”
Deg..
 “Oh, kalo gitu lain kali aku mampir lagi mba. Mari...”
Aku tersenyum dan Berbalik. Tulang rusukku seolah remuk. Tubuhku bergetar. Tanpa kusadari aliran hangat terbentuk melintasi pipiku. Langkahku terasa sangat berat. Sekujur tubuh terasa remuk. Seperti mayat hidup kuberjalan. 

*FF2in1


0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)