Kamis, 11 Oktober 2012

Nyawa-Nyawa yang Terlepas


Awan duka kembali menyelimuti. Kemarin, sebuah insiden kembali mencoreng nama kampus kami, UNM. Mencoreng muka kami sebagai mahasiswa almamater orange. Mencoreng muka kami sebagai mahasiswa Makassar. Mencoreng muka kami sebagai mahasiswa Indonesia.
Api kembali tersulut. Letusan dimana-mana, entah itu bom molotov, atau senjata rakitan. Aku tak tahu pasti. Suara itu hanya terdengar dari kejauhan. Parang dan samurai terhunus ke langit. Batu melayang dari dua arah. Lalu lintas pun sempat terhenti. Di luar sana telah berjejer mobil polisi dan ambulance, mendengar sirine telah meraung-raung sedari tadi. Meneriakkan isyarat untuk menghentikan semuanya. Aku hanya bisa terdiam di sebuah perpustakaan kecil milik jurusan kami. Sebuah kegelisahan menyelimutiku sepanjang hari. Time flies so fast... empat tahun sudah aku menjalani lika-liku hidup dengan almamater orange-ku. Sejak mahasiswa baru, aku pernah menyaksikan langsung beberapa peristiwa serupa. Biasanya aku paling suka berdiri di barisan penonton. Aku suka menonton mereka yang beradu nyawa. Mungkin karena sejak kecil aku suka menonton film-film action atau perang. Ada kesenangan tersendiri bisa menyaksikan langsung adegan-adegan layaknya film yang kunonton. Tapi hari ini, aku enggan beranjak dari tempat duduk ku. Kunikmati setiap gerakan jemariku pada tuts keyboard laptopku. Meski senyum dan candaan terurai di ruangan kecil ini. Tak bisa kupungkiri bahwa hatiku menjerit, meneteskan kepedihan, membayangkan saudaraku beradu nyawa diujung jalan sana.
“Perang sudah berhenti,” kata seorang teman.
Kami pun keluar dari ruangan ber-Ac penuh buku yang jarang kami sentuh. Dengan bantuan seorang teman, aku bergeser menuju Rumah Nalar, Rumah peradaban, begitu kami menyebutnya. Rumah sederhana yang baru saja kami tempati. Dengan rimbunan semak ditemani tebu dan pisang di halaman belakang. Jejeran pohon mangga yang sudah tua menjulang ke langit dengan kokohnya. Kebun sayur terhampar di hadapan rumah, mengapit jalan kecil berbatu yang menghubungkan jalan raya dengan “perkampungan kecil” kami. Aku suka duduk di bawah pohon mangga di depan rumah kami. “seperti berada di desa.” Kata seorang teman. Tak lama kemudian, seorang kakak mengabarkan bahwa “perang” berlanjut di sebuah rumah sakit umum dekat dari rumah kami. Segera ku cek di twitter, mencari-cari kicauan warga twitland. Ternyata benar adanya. Aku teringat saat perjalan ke Rumah Nalar, aku sempat berpapasan dengan rombongan polisi yang mengendarai motor kemudian diikuti raungan sirine.
Serangan terjadi di sebuah rumah sakit umum, menewaskan dua orang mahasiswa Fakultas Teknik. Korban yang sedang menjenguk temannya tewas akibat tikaman dari mahasiswa Fakultas Seni. Begitu bunyi kicauan di twitland. Seketika tulang terasa rontok. Lemas. Ku intip beberapa kali nama dua korban tersebut. Entah aku selalu merasa mengenal salah satu dari mereka. Batin selalu meyakinkan, salah satu dari mereka adalah seorang yang kukenal. Pikiranku pun liar mencari-cari, mencoba mengingat-ingat. Sementara itu, di twitland mulai bertebaran caci dan maki. Ada yang senang karena kampus diliburkan, ada yang mensyukuri tewasnya kedua mahasiswa tersebut, ada yang mengutuk aksi kekerasan sore tadi. Cacian ke almamater kami pun tak bisa dihindari. Bahkan ada yang mengatakan bahwa “perang” ini dilakukan oleh mahasiswa kampus kami, bukan berarti dilakukan oleh “mahasiswa Makassar”. Lalu, apakah kami bukan bagian dari mahasiswa Makassar?  Aku, kembali terdiam dibawah pohon mangga ini. Air mata mungkin tak tertitik sebagai tanda kesedihan. Tapi, kepedihanlah yang tertitik dalam dada. Lagi, saudara kami tewas, menjadi korban dari api sore yang tersulut entah dari sudut mana, aku tak mengerti.
Saat itu aku belum tahu pasti, apakah betul salah satu korban adalah orang yang kukenal. Tapi, sesak menyelimuti kala menyaksikan cacian orang-orang di berbagai social network. Ungkapan-ungkapan yang sama sekali tidak menunjukkan ke-duka-an bertebaran dimana-mana. Inikah sikap kita sesama saudara? Lalu, makian itu yang terlontar dengan mudah dari sesama rekan mahasiswa, warga, sampai media. Adakah mereka sadar, kami bagian dari kalian. Tidak bisa dipungkiri kawan, kami, almamater orange, adalah bagian dari Makassar. Lalu, ketika kami melakukan kesalahan, seketika itukah kami terbuang dari batas Makassar? Seketika itukah kami bukan bagian dari kalian? Lalu ucapan syukur kalian atas nyawa yang lepas, apa jadinya jika keluarga korban mendengarnya? Apa jadinya jika ibu-ibu kalian mendengar orang-orang bersyukur atas kematian kalian? Lalu dimana tanggung jawab kita terhadap masyarakat kita?.
Kita sepakat meneriakkan penolakan terhadap kekerasan. Tapi kupikir, dengan berkoar-koar mencaci maki hanyalah tindakan seorang pecundang. Mari kita tanya diri kita masing-masing, apa yang telah kita lakukan untuk diri kita? Untuk lingkungan kita? Untuk masyarakat kita? Untuk bumi pertiwi ini? Sudahkah kita melakukan sesuatu?
Biarkanlah nyawa-nyawa yang terlepas dari jasadnya menampar kita satu per satu. Membuka mata kita.

*RIP Rezky Munandar, Heriyanto, serta nyawa-nyawa lain yang terlepas akibat kekerasan. Semoga kalian mendapat tempat yang lapang. Semoga hati-hati ibu, ayah, saudara kalian dilapangkan oleh-Nya. Aamiiin.

#Komunitas Mahasiswa Tolak Kekerasan
"Tanah air adalah sebuah proyek yang kita tempuh bersama-sama, kau dan Aku. Sebuah kemungkinan yang menyingsing, sebuah cita-cita yang digayuh generasi demi generasi, sebuah impian yang kita jalani dengan tungkai kaki yang kadang capek dan kesadaran yang kadang tanpa fokus. Tanah air adalah ruang masa kini, yang kita arungi, karena ada harapan untuk kita kelak" (Goenawan Mohamad).


1 komentar:

Nina Kurnia Dewi mengatakan...

Turut berduka cita kak :"

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)