Rabu, 08 Agustus 2012

Tismi Dipalaya: Sebuah Nama Berbagai Cerita

"Perkenalkan, nama saya Tismi Dipalaya..."
"Siapa?"
...
Begitulah setiap kali saya memperkenalkan diri, lawan bicara saya pasti memberikan ekspresi "lucu": mata melotot, kening berkerut, mulut menganga lebar, tersenyum (entah apa yang ada dipikirannya). Bisa dipastikan mereka akan bertanya dan terus bertanya seputar nama ku untuk sekedar meminta ku mengeja ulang hurufnya atau menanyakan arti dan makna filosofisnya.

Beragam reaksi yang telah ku dapat seumur hidup dengan nama indah tersebut.
"itu dari bahasa sansekerta ya?" (ni orang ahli sejarah ya?)
"kamu orang Ambon ya?" (... )
"Kamu orang Batak?" (hm...)
"Kamu orang Hindhu?' (woow...amazing...!)
"Kamu lahir di sebuah kota bernama palaya?" (ini keren banget ya analisisnya)
atau dibalas seperti ini...
"kis mi??? boleh nih?" (wiiih, keliatan sifat penggodanya)
"ma is mu ka?" (pasti alumni pesantren)
"namanya unik ya..." *senyumsenyum (respon pasaran) =.="

yaap, saya bisa merasakan "penderitaan" seorang turis bule yang setiap bertemu makhluk beernama manusia dan mampu bicara menyerang dengan pertanyaan-pertanyaan sejuta ummat such as: "Hai mister.. what is your name? Where you come from? What are you doing here?" kemudian dijawab dengan Bahasa Indonesia yang fasih. PASTI akan dapat respon kurang lebih seperti ini: "waaaaa bisa bahasa Indonesia ya?? Belajar dari mana? di Indonesia udah berapa lama? *dengan mata berbinar-binar* si Bule pun akan menjelaskan (lagi) dengan ekspresi bosan! Percayalah, mereka bosan menjawab pertanyaan yang sama setiap bertemu orang. "Rasanya ingin sembunyi saja dari orang-orang pribum, atau mungkin saya akan mengetik penjelasan itu, print, laminating, kemudian menunjukkannya ke setiap orang yang bertanya." (pengakuan salah satu Bule dalam sesi curcol nya) hahahahaaa... ketika itu saya tergelitik dan memikirkan hal yang sama. Sepertinya ide gila tersebut bisa saya gunakan untuk menjawab mata belo orang-orang yang tertark dengan nama saya. ^^v

Sejatinya nama adalah harapan serta doa terbaik orang tua. Maka dalam merumuskan nama seorang bayi merah yang baru mengenal dunia menjadi soal tersulit yang pernah ada setelah soal-soal fisika dan matematika. Butuh kehati-hatian dalam memberi nama agar tak menjadi rangkaian huruf yang kosong dan surut makna. Butuh seni dalam merumuskan agar terdengar indah dan menyejukkan terdengar serta menjadi the real identitas bagi sang empunya. (ehm...yang namanya pasaran jangan tersinggung ya ^^)

Menyadari nama saya begitu "unik dan indah" (numpang narsis gak papa lah ya), yang kemudian saya ramalkan akan menjadi kontroversial di masa depan, sejak kecil saya pun sering menanyakan asal usul dan sejarah penemuan huruf-huruf ajaib tersebut serta makna filosofinya (cerdas banget yaa jadi bocah).
Orang yang paling tepat menjadi sasaran pertanggungjawaban adalah Bapak. Beliaulah yang menganugerahi nama yang begitu "unik dan indah" (Thanks, Dad ^^ love u so much :*). Penjelasan beliau pun bertingkat menyesuaikan umur saya. Berikut ini jawaban-jawaban beliau.

Jaman SD
TISMI itu singkatan dari Taman ISmail MarzukI

Distaaaaakkkkk... berasal dari nama taman?
Iya, soalnya waktu saya dilahirkan katanya Bapak sedang berada di taman itu. Hm =.="
Ya. Saat saya brojol ke dunia, Bapak tidak ada di sisi Ibuk. Beliau sedang di luar kota.

Jaman SMP
TISMI itu singkatan dari Tuntutlah Ilmu Sampai MilikI..

Bapak berharap saya bisa sekolah setinggi-tingginya. Sangat memotivasi! Buku-buku catatan saya pun penuh dengan kata-kata itu. Dan saya betul-betul menjadi bureng! (buru rengking a.k.a ranking). Ampuh ya!

Jaman SMA
Penjelasannya makin berkembang ke kata ke dua dari nama saya "DIPALAYA"
DIPALAYA itu berasal dari Bahasa Mandar (Suku di Sulawesi Barat, tanah nenek moyang saya dari garis keturunan Bapak) yang berarti, rotan yang diraut hingga lembut dan lentur. Maknanya, beliau berharap gadis kecilnya tumbuh menjadi perempuat lembut nan tangguh, tidak mudah "patah" dan "lentur". "Lentur" di sini kemudian saya kaji menjadi sebuah kata "resiliensi". Ya, saya harus punya daya resiliensi yang tinggi seperti harapan beliau.

Jaman Mahasiswa
Sebuah rahasia, penjelasan yang belum disampaikan oleh beliau sepanjang saya bertanya dari hari ke hari.
TISMI itu sejatinya berasal dari ayat Al-Quran dalam surat Al-Qashash ayat 1 yang berbunyi:
thaa-siin-miim
yang dalam terjemahannya di tuliskan "Thaa Siin Miim" kemudian dalam Tafsir Jalalain dituliskan (Tha Sin Mim) hanya Allah-lah yang mengetahui maksudnya. Maknanya adalah tak ada yang "tahu" tentang saya, hanya Pencipta jiwa dan raga ini lah yang tahu, Allah SWT. (misterius dong :| ) dan ketika saya mengkaji diri lebih dalam bahwasannya benar adanya. Saya akui saya termasuk orang yang memiliki "dunia" sendiri. Saya hidup dan membangun dunia saya sendiri.

Kemudian, tambahan yang lain adalah bahwa kata DIPALAYA juga terinspirasi dari nama tempat Bapak "berasal" yaitu Batulaya, sebuah kampung di tanah Mandar. Dengan adanya unsur-unsur Mandar dalam nama saya, maka tak heran jika saya yang lahir dan besar di Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan, mampu merasakan darah dan denyut Mandar mengisi setiap sudut fisik dan psikis saya. Saat masih kecil, saya sering menangis kketika orang-orang menyebut saya orang Sampeang (Kampung tempat saya lahir) Saya pun kembali tersenyum ketika disebut saya adalah orang Mandar. Hingga kini saya sering mengatakan atau menulis di kolom biografi atau bio description bahwa saya adalah dara Mandar yang hingga kini masih mencari ke-Mandar-an saya. Saya selalu haus akan sejarah dan kebudayaan Mandar. Sejak kecil, saya telah terbiasa mendengar cerita-cerita tentang nenek moyang kami di Tanah Mandar. Hal ini-lah yang membentuk semacam rindu di dada.

Memiliki nama yang "unik dan indah" menjadi hadiah yang terindah dari Bapak. Berbagai cerita unik dan mengharukan ku lewati dengan nama ini. Seperti saat menghadapi Seminar Proposal, pertanyaan pertama dari bapak dosen pembahas adalah tentang makna di balik nama saya :) [ini mah sudah diluar kepala^^]. Saat penelitiaan di sekolah pun, nama saya menjadi "tren". Siswa-siswa saya serentak menambahkan kata DIPALAYA pada nama akun Facebook dan Twitter mereka :) hihihihihi, bocah!

dan mimpiku... suatu hari nama ini (Tismi Dipalaya) akan mengisi titik-titik kosong pada sebuah tanya dalam judul posting-an blog seseorang :). Menyatu dengan namanya. Amin. #optimism

11 komentar:

bocah mengatakan...

Amiiin..

it's cool..

(pulsa sy error..)

Dream Writer mengatakan...

Keren, lucu-lucu tong kubaca!

Tapada Salama!

pelukis malam mengatakan...

@bocah & @Dream Writer : hehehhe akhirnya, rencananya ini nanti menjadi Bab pertama dalam novelku.. gimana? *mohon saran kritiknya

ilham baharuddin mengatakan...

meleleh ka.... kayak gaya tulisannya seperti namanya Unik dan Indah

taufik mengatakan...

hm....asyik juga

pelukis malam mengatakan...

@ilham baharuddin: heheheheh tengkyuuu bro :)

@taufik: lebih asyiik lagi yg berkunjung ^^

Pengagum Bintang (NKD) mengatakan...

Nice kak. Mau buat novel ya?
Visit back ya ;)

pelukis malam mengatakan...

yap..yap... semoga bisa terwujud tahun ini ^^ #optimism

makasi sdh berkunjung :)

Pengagum Bintang (NKD) mengatakan...

amin {}
makasih jg kak udah kunjung balik + follback ;)

Outbound di Malang mengatakan...

nice post :)
ditunggu kunjungan baliknya yaah ,

andi rahmat saleh mengatakan...

nice post...

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)