Minggu, 29 Juli 2012

Matilah!

"bisakah kau berjanji satu hal?"
"apa?"
 "berjanjilah bahwa kau akan hidup lebih lama dari seperti yang kau harap!"


entahlah. begitu sesak ketika harus membicarakan sebuah kematian. tapi kau menyeretku ke kanvas ini untuk melukiskan tentang kematian.

"Ada orang yang kusayangi... Yang kematiannya paling tak kuinginkan di dunia ini..."
--Conan Edogawa--

tentu saja kau berada dalam daftar "orang yang ku sayangi" itu! maka ingin ku pun jelas.

"dulu, aku berharap mati muda... tapi sekarang aku ingin menua denganmu."
--@hurufkecil--

kau, aku... sama-sama pernah berharap mati muda. tapi, suatu hari kita pun berikrar akan menua bersama. menjadikanku nafasmu dan menjadikanmu nafasku adalah sebuah kebahagiaan. seperti katamu self-power itu berasal dari kebahagiaan. dan aku akan berusaha memberi mu self-power sebanyak mungkin. bahkan menjadikannya sumber daya yang tak akan pernah habis. maka ketika ku temui kau dalam ruang hitam bersiap menuju dimensi lain yang tak kan bisa lagi ku jamah. dan seoalah kau telah lama menantinya. dimensi kedamaian abadi. maka ku anggap aku telah gagal sebenar-benarnya gagal.

. . .

Aku takkan pernah berhenti
Akan terus memahami, masih terus berfikir
Bila harus memaksa atau berdarah untukmu
Apapun itu asal kau mencoba menerimaku

Dan kamu hanya perlu terima
Dan tak harus memahami, dan tak harus berfikir
Hanya perlu mengerti aku bernafas untukmu
Jadi tetaplah di sini dan mulai menerimaku

Cobalah mengerti semua ini mencari arti
Selamanya takkan berhenti
Inginkan rasakan rindu ini menjadi satu
Biar waktu yang memisahkan


--peterpan--

bingung. seoalah diksi musnah begitu saja kala harus melukiskan kematian. seperti ketika kau bertanya "jika aku mati, apakah aku akan menjadi unfinished business bagimu?"

". . ."

aku hanya bisa terdiam. bukan tak ingin menjawab tapi kata ku seketika lenyap ditelan kebingungan yang mencoba menerjemahkan rasaku. hanya sesak yang tersisa.

kematian adalah sebuah rahasia. berhentilah mengoceh seolah kau sangat siap untuk itu. jangan kau jadi kan kematian sebagai tempatmu berlari atas tanya yang belum bisa kau jawab sendiri. dan jangan heran jika esok kau tiba-tiba menemukanku terbujur kaku tanpa menitipkan sepucuk surat untukmu. tanpa mengucapkan selamat tinggal untukmu. semua itu adalah kejutan dariNya. jadi tak salah jika aku tak sempat menulis surat dan mengucapkan selamat tinggal.

meski kematian adalah rahasia dari Tuhan, dan keniscayaan bagi kita, manusia. tapi ijinkan aku tetap memohon padaNya untuk memberi ruang bagi mimpi kita menjamah dunia nyata. dan kau... aku benci melihatmu tersungkur menanti kematian. biarkanlah kematian tetap menjadi kejutan bagi kita. aku ingin kau setangguh senyummu. memberi ruang pada huruf yang telah kita rangkai pada sebuah catatan di buku mu menjadi hidup. setelah itu kau boleh mati. Matilah! tapi setelah aku!





3 komentar:

a.i.r mengatakan...

lautan kata yang menlarung saya ke dalam pasang dan melayang.. :)

supriadi yasmi mengatakan...

keren

pelukis malam mengatakan...

Terima kasih sudah berkunjung :-)

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)