Minggu, 29 Juli 2012

Jatuh dari Ketinggian itu Sakit!

waktu kecil aku sering berlibur di kampung, tempat nenek tinggal. aku senang main di kebun belakang rumah meski nenek berkali-kali melarang. "awas, jangan main di kebun, nanti kau dijatuhi kelapa!" pesan nenek setiap kali mendapatiku mengendap-endap ke belakang rumah. Entah ada magnet apa di dalam kebun itu. mungkin karena bau serasah yang bertumpuk, jalan setapak yang mulai tertutup rumput, atau gigitan nyamuk serta sinar matahari yang berusaha mencuri celah. ataukah suara gemercik air sungai yang bersanding dengan hamparan hijau sawah sebagai hadiah ketika berhasil menaklukkan jalan setapak yang membelah kebun nenek. semakin dilarang maka akan semakin kulakukan. itulah aku. maka hari itu akupun berjalan meniti setapak menuju kebun. ku dapati barisan pohon coklat, dengan rumput liar dimana-mana. BUUKKK! tiba-tiba sebuah kelapa terlepas dari tandannya. ku amati pohon itu. kokoh menjulang ke awan. tidak lurus. daunnya menarikan tarian suram. ku cari-cari kelapa itu, mengapa ia terjatuh? apakah sudah waktunya? apakah ada yang menjatuhkannya? atau.. ia sengaja menjatuhkannya? ah...saat ini tak ingin ku cari jawaban itu. aku hanya ingin menyapa kelapa itu, apakah ia masih utuh bulat? atau telah hancur berantakan?  ooh Tuhan pasti ia sakit. 

Ya. jatuh itu sakit. apalagi dari ketinggian!

kau selalu mampu melambungkanku ke tempat tinggi. seperti berada di tengah kelapa dan nyiurnya. menari.
aku mungkin akan sedikit grogi. aku hanya takut terjatuh. aku sadar tak ada yang mampu memberi kepastian bahwa aku tak akan jatuh. aku mungkin tak akan kaget jika jatuhnya 10 atau 50 tahun ke depan. tapi akan berbeda ketika baru saja berada di atas kemudian 1 atau 5 detik kemudian batang pohon yang terlihat kaku itu tiba-tiba lenyap sekejap. seperti kelapa itu, jika terjatuh pada waktunya maka ia akan tetap utuh,bulat. meski sedikit perih sebagai hasil gesekan dengan bumi.  tapi jika ia dipaksa atau memaksakan jatuh, maka konsekuensianya ia akan terburai pecah. tak lagi utuh.

aku terlalu takut. takut terjatuh. takut terburai. takut kau terbuai zona nyamanmu. aku terlalu takut dengan diriku yang tak terkendali. seperti malam ini. emosi yang tak terkendali membuat semuanya tergeneralisasi dengan sempurna. begitu cepat. maaf atas penarikan kesimpulan yang terlalu bodoh. membut ku begitu terburu-buru terlilit emosi. melupakan nafas yang membuatku mampu berdiri di sini. ya, nafas  itu adalah harapan. harapan yang setiap malam kau bisikkan. harapan yang setiap pagi melukis senyumku. harapan yang selalu menyeka peluhku kala siang begitu ganas. nafas itu adalah harapan yang selalu menemaniku kala senja harus membuatku menanti. aku hanya takut kau, dia, atau mereka mencabutnya.

aku hanya takut kau seperti batang pohon itu yang kekuatannyanya hilang seketika. dan hanya menyisakan bayangan. aku ingin kau setangguh harapmu. menjagaku agar tak terjatuh sebelum waktunya.

1 komentar:

Wawank mengatakan...

:)

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)