Senin, 11 Juni 2012

Perpisahan itu Manis!

“dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya;
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya”

Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni 
Awal Juni mungkin disambut bahagia bagi sebagian orang, teman-teman di komunitas Blogger Nalar membuat postingan dengan kata-kata yang menggambarkan betapa Juni itu sangat indah. Semua berdendang tentang elegi di awal Juni. Ada yang berkisah tentang kegalauan, rindu, hujan, hingga perpisahan. Dan awal Juni ini pun saya berkisah tentang sebuah benih rindu yang ternyata telah kutabur di putih polos hati mereka. Mereka yang merajut rindu dengan seuntai benang ketulusan. Mereka itu bocah-bocah pejuang mimpi.

Setelah sidang proposal skripsi dan masa-masa validasi instrumen akhirnya tiba juga hari untuk terjun langsung ke sekolah untuk pengambilan data. Akhir Mei tepatnya 21 Juni (kelas VII4 dan VII3) dan 22 Juni (kelas VII1 dan VII2), pertama kali ku berdiri di hadapan mereka. Gugup sudah menjadi keniscayaan ketika melangkahkan kaki menuju bangunan putih yang dikelilingi rumput-rumput kecil, tempat mereka menimba ilmu. Sesampainya di kelas, kutemukan sederet senyum manis tulus mencerminkan putihnya hati, dan barisan cahaya bak lampu neon dari sorot mata bening penuh harap. Seketika jantungku berdegup memompakan energi ke seluruh tubuh, hati bergumam tuk memberi yang terbaik. Saat itu mungkin hari pertama ku bertemu mereka namun rasanya seperti telah bertemu beberapa tahun silam. Akrab.

---Di luar rintik hujan mulai turun, sebagaian org mgkn masih terkulai di kasur malas..tp riuh celotehan bocah2 di ruangan ini penuh energi --- 

tulisku di sebuah jejaring sosial...

Ya. Kala itu hujan tengah mengguyur Butta Panrita Lopi tanah tempatku lahir dan dibesarkan. Rasa malas menyelimutiku di hari ke dua (22 Juni). Berat rasanya menggerakkan rangkaian anggota badan tuk segera bergegas ke sekolah terlebih lagi semalam masih terjaga hingga ayam pun kut menegur dengan suaranya yang parau.
Tapi... kelas tetaplah kelas. Bocah tetaplah bocah. Mereka punya segudang cadangan energi yang entah disembunyikan di mana. Mereka punya unlimited celotehan yang selalu membuat kelas riuh. Di luar, rerumputan itu tertidur pulas, di-nina bobo-kan oleh nyanyian hujan. Mungkin rumput hijau itu mulai membeku oleh dinginnya angin. Tapi, di dalam ruangan berukuran sekitar 7 X 8 m itu, energi mereka mampu mengahangatkan menyelamatkan kami semua dari kebekuan hati dan otak.

yang membedakan kalian dengan orang-orang hebat di luar sana hanyalah keberanian...
ucapku pada mereka di sela-sela pertemuan (minggu) ke dua. Hari itu mereka kuracuni dengan virus percaya diri. Harapku mereka bisa menjadi penerus siswa-siswa berprestasi dari Butta Panrita Lopi ini. Dimulai dengan berani tampil di depan kelas menyampaikan gagasan... hingga akhirnya kelak mereka mampu tampil berbicara di depan umum/khalayak ramai/tingkatan yang lebih tinggi. Berjuanglah!

Menulislah maka kau kan abadi!
di hari terakhir kembali ku racuni mereka dengan virus menulis. Saaat itu aku duduk menunggui mereka yang tengah  mengerjakan soal akhir (post test). Aku tak terbiasa dengan suasana hening, diam. Kurogoh saku tas ku, mencari benda kecil yang merupakan kumpulan kertas terbundel rapi dengan sebuah spiral hitam. Kutorehkan biru tinta di atasnya. Berkisah pada secarik kertas. Tanpa sengaja ku temui di sebuah sudut seorang siswa ku juga melakukan hal yang sama. Seketika ia gemetar menyembunyikan buku sakunya, ku lemparkan sebuah senyum padanya. Setelah mengerjakan post test... mulai ku suntikkan virus-virus itu pada tubuh-tubuh mungil di sekelilingku. Menulislah, maka suatu saat ketika kau dewasa kau akan mampu kembali menemui dirimu--yang dulu -- kapanpun kau mau... mungkin di secarik kertas usang itu kau mampu menyapa kembali mimpi-mimpimu, dalam setiap rangkaian kata kan kau temukan senyum dan tangis mu, dan bisa jadi di sana kau kan menemukan jejak-jejak kesuksesan dan kegagalanmu, sungguh.. kau akan kembali menemukan dirimu di secarik kertas itu. Olehnya, bermimpilah lau tuliskan semuanya. Mulailah menuliskan segala cerita yang kau lalui hari ini... sependek atau sepanjang apapun itu, se-konyol atau se-lebay apapun itu... :)

Perpisahan itu manis...
Pertemuan akan selalu berujung dengan sebuah perpisahan. Seperti mentari yang selalu menghangatkan di awal hari, dan teriknya siang yang membakar semangat mengabaikan peluh, hingga akhirnya tiba disebuah senja yang kan menutup hari. Seperti itulah cerita ku bersama mereka, para pejuang-pejuang mimpi. Pertemuan yang sangat amat singkat harus di akhiri. Inginku terus mendampingi mereka, namun apa daya tugas lain memaksa tuk kembali ke Kota Daeng. Namun, siklus alam tak berhenti di situ. Hari segera berganti malam, mentari kini bersembunyi dibalik tirai hitam. Tapi, tenanglah para pejuang mimpi! Malam tak se-pekat itu. Telah kuttipkan bintang dan rembulan padamu. Maka seketika kerlip bintang kan bertaburan menghias langit dan rembulan pun kan setia menemanimu di lorong-lorong itu. Perpisahan tak selamanya pahit. Bagiku, berpisah dengan kalian adalah hal yang sangat manis. Kalian memeberiku aliran energi yang luar biasa. Kalian memberi makna hidup ini. Kalian menitipkan sebait nyanyian rindu di hati. Aku yakin suatu hari kita kan bertemu kembali ketika mimpi telah berhasil kalian genggam. Dan saat itu kalian menyapaku di sudut hati yang selalu terjaga.


sebuah pertemuan yang singkat namun begitu bermakna penuh cerita
*terima kasih kepada siswa-siswaku di kelas VII1, VII2, VII3, dan VII4 SMP Neg. 1 Bulukumba
:)






5 komentar:

Wawank mengatakan...

Semoga...!!

fitto' mengatakan...

setiap langkah membawa cerita,,
teringat masa-masa dlu kita dengan seragam yg sama dgn bocah-bocah di atas..
*hmmm membayangkan nakalnya
hahhaa

Anonim mengatakan...

ibu aq terharu bngt.....

http://regha11106.blogspot.com mengatakan...

Sungguh juni itu bulan yang indah kawan ^_^

pelukis malam mengatakan...

@wawank: amin :)

@fitto': hahahaha super nakal...byk tingkah :)

@morina: siapkan tissue kalo baca ini nah..

@rhega: ^_^

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)