Rabu, 27 Juni 2012

Paling Indonesia di Desember 2007



Desember selalu melukis kenangannya sendiri. Mungkin karena Desember menjadi bulan yang ke duabelas (bulan terakhir) dalam Kalender Gregorian—yang hingga kini kita gunakan. Meski para pujangga menorehkan sajak-sajak kelabu, bagiku desember menyimpan kenangan yang hingga kini menjadi api abadi dalam dada.

Desember 2007
Pemerintah Jepang mengundang para Pemuda dari negara-negara ASEAN, Australia, India, dan Selandia Baru, untuk mengunjungi tempat dan kota yang terkait dengan sistem politik, ekonomi, dan sosial budaya Jepang.
The Japan-East Asia Network of Exchange for Student and Youths (JENESYS) Programme adalah program persahabatan Jepang dengan negara-negara di kawasan Asia Timur yang bertujuan menciptakan dan memperdalam rasa saling pengertian di antara para remaja yang merupakan generasi penerus yang akan berperan penting di masa yang akan datang. Program JENESYS ini terdiri dari dua jenis program yaitu Short Program (dua minggu) diberangkatkan pada bulan Desember dan Year Program (sebelas bulan) diberangkatkan pada bulan Maret.
Saat itu saya yang menjadi salah satu dari 60 siswa Indonesia mengikuti JENESYS Programme untuk jangka pendek bersama sahabat-sahabat dari Australia, New Zealand, India, Malaysia, Filipina, dan Thailand. 

Traditional Costumes
Di hari ke tiga, seluruh peserta diundang untuk makan siang bersama di sebuah hall. Sebelumnya, panitia telah menginformasikan pada peserta untuk menggunakan traditional costum  negara masing-masing. Saat itu, aku dan beberapa teman baru saja keluar dari lift, seorang volunteer  terlihat sedang berbincang dengan teman-teman dari negeri kangguru.
...traditional costumes? What is that??”, tanya seorang siswa.
Rupanya mereka sedang membicarakan mengenai dress code untuk acara Welcome Lunch nanti. Aku ikut bergabung dengan mereka. Aku begitu penasaran karena mereka seolah tidak tahu apa itu “traditional customes”. Kakak volunteer  itu pun menjelaskan padaku bahwa mereka bingung ingin menggunakan pakaian apa pada acara gathering besok. Mereka agak sedikit aneh dengan kata “traditional customes”. Ku pikir, mereka lupa membawanya. Namun, ternyata mereka betul-betul bingung dengan istilah itu. Mereka tidak tahu apa pakaian adat mereka makanya mereka tidak menyiapkan apa-apa. Aku menatap Baju Bodo berwarna pink dal Lipa' Sabbe yang terlipat rapi dalam koper. Rasa syukur tak terhingga menyelimuti hati. Meski pengetahuanku akan sejarah pakaian itu begitu dangkal setidaknya aku tidak bingung ketika mendengar kata “tradtional costumes” dan aku tahu besok akan memakai apa. Pakaian tradisional Provinsi Sulawesi Selatan. 

Welcome Lunch
Acara ini merupakan acara penyambutan resmi dari pihak pemerintah Jepang dan AFS Jepang sebagai penyelenggara kegiatan. Kami disuguhkan berbagai penampilan kesenian budaya Jepang. Selain itu, ada beberapa meja panjang tergeletak di bagian depan. Berbagai makanan khas setiap negara berderet rapi di atasnya. Huaaah... seketika kami—peserta dari Indonesia—menjadi buas begitu menemukan Nasi Goreng tersenyum manis di antara masakan-masakan lain. Masakan satu ini memang paling ampuh mengobati rindu. Sambil mencicipi makanan-makanan itu, beberapa teman dari negara lain bergantian berfoto dengan kami. Mereka selalu bertanya asal negara kami dan setiap kami menyebut Indonesia mereka selalu berekspresi kaget, heran, dan mengucapkan “waaaaaw”.
Ya! Aku baru sadar saat ini lah Welcome Lunch dimana seluruh peserta menggunakan pakaian adat dari masing-masing negara. Wuah, ruangan megah itu jadi aneh ^^, seperti sedang pesta kostum..heheheh.
Sahabat-sahabat dari Filipina memakai pakaian yang mirip dengan pakaian cinderella ^^, dari Thailand hanya memakai pakaian formal (kemeja), *sepertinya mereka tidak membawa persiapan. Nah, teman-teman dari India juga memakai pakaian khas nya, sari. Wuaah betul-betul seperti di film-film India ^_^. Sementara itu peserta yang dari negara tetangga menggunakan pakaian dengan model mirip kebaya (wanita) dan yang dari negeri kangguru memakai pakaian santai atau School Uniform-nya karena katanya mereka tidak tahu mau memakai apa. Jadilah waktu itu kita seperti selebriti, dapat tawaran pemotretan yang membludak—lebaay,hhee. Teman-teman peserta dari negara lain berebutan minta foto. Katanya kami unik karena sama-sama dari Indonesia tapi baju tradisionalnya beraneka ragam. Lalu kami cuma punya satu jawaban.. "That's Indonesia, different but still one." ^^v 
Saat itu, kami [anak Indonesia] seketika merasakan gejolak yang sama dalam dada kami.

KAMI BANGGA JADI ANAK INDONESIA!

Kami bangga terlahir di ibu pertiwi yang mempunyai kekayaan budaya yang begitu beraneka ragam. Mungkin selama ini kata-kata seperti itu hanya kami baca di buku-buku pelajaran. Namun kini, kami mengerti perbedaan itu sangatlah membuat kami bangga dan membuat kami semakin satu. Dengan senyum yang mengharu biru, kami saling menatap satu sama lain, aku yakin kami semua merasakan hal yang sama, terharu.
Perbedaanlah yang membuat kita semakin dekat. Seperti susunan warna yang membentuk pelangi. Seperti nada-nada yang mengalunkan simfoni. Indah.
bersama sahabat dari New Zealand & Filipina

Mary dari Aussie
mix and match

all friends
Bahasa Indonesia
on stage
Di pekan ke dua Jenesys Programme, saatnya home stay­. Jadi kami di tempatkan di masing-masing host community. Aku di tempatkan di Nagoya-minami. Dalam masa ­–home stay  ini, aku satu-satunya peserta dari Indonesia. Dengan kata lain, saatnya puasa berbicara menggunakan Bahasa Indonesia. Ku pikir ini tdak akan berat karena hanya se-pekan. Namun, pada hari ke empat, mulutku betul-betul gatal ingin berbahasa Indonesia, kepalaku pun mulai pusing karena yang ku dengar hanya bahasa Inggris dan Jepang. Bahkan rasa mual pun mulai terasa. Mungkin ini yang dinamakan culture shock. Aku merasa seperti seorang diri. Aku merasa asing di tengah orang-orang itu. Aku merasa sepi. Tiba-tiba rindu akan ibu pertiwi membuncah dalam dada.
Hari itu, jumat. Artinya hari terakhir mengikuti kegiatan sekolah ala Jepang. Kami diundang menghadiri Live Music Concert sebuah SMA di kota itu. Tiba-tiba asisten walikota mendekatiku. Pria berwajah bule tu mengatakan bahwa ada seseorang yang mencari ku. Hm.. hatiku kemudian gusar, “siapa?” siapa yang mencariku ditengah-tengah daerah asing seperti ini? Saudara? Keluarga? Aku tak punya kenalan di daerah ini apalagi saudara atau keluarga.
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya duduk di sampingku. Tersenyum. Menyapa. Berjabat tangan. Dan yang terpenting adalah menggunakan Bahasa Indonesia! ^_^
Beliau adalah orang Indonesia asli Jogja yang bekerja di kota itu. Beliau telah menikah dengan pria asli Jepang. Katanya sejak 5 tahun terakhir mereka tidak pernah kembali ke Indonesia karena kesibukan kerja dan pendidikan anak-anaknya. Ketika tahu salah satu peserta Jenesys yang home stay di kota ini adalah dari Indonesia, Ibu dari dua anak itu seketika mencari tahu dan menemuiku. Huaaaaa... mataku berkaca-kaca mendengar cerita beliau. Dia pun menyesal karena baru tahu di saat-saat terakhir. Sebelum berpisah, beliau memeluk ku. Seperti ada yang menggedor-gedor tulang rusukku. Tak terasa sebuah aliran terbentuk melintasi pipiku. Hangat.
Beliau bukanlah saudara atau keluarga, mengenalnya pun baru beberapa detik yang lalu. Tapi pelukan itu seperti dua orang yang baru bertemu setelah bertahun lamanya. Mungkin karena “darah” yang mengalir dalam tubuh kami berasal dari satu “rahim”, ibu pertiwi. Mungkin karena kami merasa satu. Satu haribaan tempat kami pulang, Indonesia. Aku tak ingin terlalu lama tenggelam dalam pikiranku hanya untuk mencari sebuah alasan mengapa aku memeluknya. Aku hanya ingin memeluknya erat dan mengucapkan terima kasih.
Darah lebih kental dari air namun hubungan keluarga bukan selalu dikarenakan oleh hubungan darah.
Setelah saat itu, aku tak lagi merasa sepi. Seperti ada energi besar mengaliriku. Sejak pelukan itu. 



Mungkin di Desember 2007 silam, seluruh energi ku terpusat di negeri matahari terbit. Memori otak ku pun terpenuhi oleh kenangan selama menghirup udara di sana. Namun sejatinya di bulan itulah aku merasa paling Indonesia. Hingga hari ini, momen dua pekan di negeri sakura telah menjadi api abadi dalam hatiku. Api yang selalu membakar semangat tuk berbuat yang terbaik, demi masa depan bangsa ini.    

*Lukisan ini ku persembahkan untuk mengikuti Lomba Blog Paling Indonesia bukan semata-mata karena lomba. Sejatinya untuk berbagi mengenai pengalaman sederhana yang selalu memberiku pelajaran lebih dari apa yang telah kupelajari bertahun-tahun di bangku sekolah.  

11 komentar:

Wawank mengatakan...

paling kereen...

#optimsm

pelukis malam mengatakan...

makasiiii :*

Adang N M I mengatakan...

Semangat mengindonesiakan indonesia...
semangat Indonesia!!
salam anak negeri

Blogwalking sore & Mengundang juga blogger Indonesia hadir di
Lounge Event Tempat Makan Favorit Blogger+ Indonesia

Salam Spirit Blogger Indonesia

BunSal mengatakan...

Selamat...Salam kenal dr Semarang..^_^

Ririe Khayan mengatakan...

Sampai di sini dr pengumuman angingmamiri yg paling INdonesia...dan mengucapkan selamat atas kemenangannya:)

Bangga selalu jadi orang Indonesia dimanapun berada:)

Panitia Lomba Blog #PalingIndonesia mengatakan...

Mohon kirimkan alamat email ke email panitia lomba blog: lomba.blog.telkomsel@gmail.com, karena alamat email yg dipakai waktu pendaftaran salah.

Terima kasih,


Panitia Lomba Blog #PalingIndonesia

Matarik Allo mengatakan...

sungguh tulisan yangn sangat menggugah perasaan. Tulisan ini memang pantas masuk dalam 3 besar. salut buatmu kawan.mohon bimbingannya ya soalnya masih newbie dalam dunia blog http://matarik-allo.blogspot.com/2012/06/bantimurungku-sayang-bantimurungku.html

Cyber Katrox mengatakan...

Selamat ya, telah menjadi juara 3.
Salam kenal.

pelukis malam mengatakan...

@BunSal: salam hangat dari Kota Daeng ^^

@Riri Khayan: terima kasih ^^ *membungkuk*

@Panitia Lomba: Tabe, kk... sudah saya kirim ke e-mail ta ^^v | maaf atas kesalahan input nya *membungkuk2*

@Matarik Allo: terima kasih atas pujiannya ^^ *membungkuk* semoga ini bisa jadi spirit booster untuk menulis lagi, lag dan lagi :)

@Cyber Katrox: salam kenal :)

andi rahmat saleh mengatakan...

wlopun telat...selamat ya
memang sangat pantas tuk menang
*jd bangga punya junior yg jago nulis yg keren* ;)

pelukis malam mengatakan...

waaaaah makasiii kak :)

| #dapat kunjungan dari pak dosen *segera merapikan laman*

^^v

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)