Selasa, 06 Maret 2012

Sepucuk Surat di angka 20


Bocah... B-o-c-a-h.
Seperti itu pertama ku menyebutmu. Kotak masuk handphone ku penuh dengan kata itu. Begitu sebutanku ketika bercerita semua tentangmu pada sahabatku.
Mengenalmu sebagai anggota baru di sebuah lembaga yang sudah kuanggap rumah ke dua seperti mendapat “adek” baru. Kau datang dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku simple tapi cukup membuatku terperangah. Di sebuah kegiatan diskusi, keakraban itu kita mulai. Sms, FB, dan twitter menjadi kanvas cerita kita selanjutnya.
Tak pernah berpikir untuk menjadikanmu seorang yang spesial sejak awal mengenalmu. Ku jalani begitu saja seperti daun yang mengikuti aliran sungai. Hingga akhirnya kusadari ada sesuatu yang tumbuh dan berkembang dalam interaksi yang selama ini kita jalani. Cinta. Begitu ku menyebutnya. 28 Agustus 2011 menjadi hari yang selalu kita ingat untuk mengukur lama hubungan yang kita jalani.
Kurang lebih enam bulan sudah kita jalani dengan segala macam cerita. Ada tawa dan tangis di dalamnya. Seperti huruf-huruf yang kita rangkai. Selalu ada makna. Kau mengajari ku banyak hal. Bukan hanya tentang romansa dua anak manusia yang terserang virus pink tapi lebih pada tentang hidup. Seluruh sisi kehidupanku tersentuh olehmu. Kau menyentuhnya dengan ketulusan. Membuatku yakin memilihmu sebagai masa depan ku.

“Ruang yang kau hadiahkan untuk ku begitu indah. Seperti tahta bertabur mawar. Tak pernah ku temukan ruang seperti itu sebelumnya.”
  
Genggaman tanganmu selalu menghangatkan. Tatapan matamu meneduhkan jiwa ketika resah datang. Bahumu selalu menjadi sandaran ketika ku jatuh. Jemarimu tak pernah lelah menghapus setiap tetesan air mata yang mengalir ketika ku mulai menyerah pada keadaan. Dan kau selalu setia mendengar cerita ku meski terkadang begitu garing dan tak penting untukmu.
Kau hadir dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kau miliki, begitu pula dengan diriku. Setiap detik akan kita lalui dengan melukis kisah demi kisah hingga hari itu tiba. Hari dimana kebahagiaan sejati menjadi milik kita. Aku yakin, “bersama kita bisa!” ^_^v
Bagiku kau bukan lah “bocah” seperti persepsi ku dahulu. Pemikiranmu bahkan sanggup jauh lebih dewasa dibanding usiamu. Namun, kau mampu menempatkan diri. Suatu waktu kau seperti “bocah” yang mampu membuatku tertawa bahkan terkadang gemas dengan segala tingkahmu. Saat aku berdiri di persimpangan, kau mampu menjadi sosok yang memberiku arahan ke mana harus melangkah. Saat aku mulai tertunduk lemas, kau hadir mengangkat daguku dan membuatku berani menatap ke depan.

“Aku berharap suatu hari kau menjadi imam ku seutuhnya”

Hari ini kau memasuki usia 20. Tak ada surprise cake di pukul 12 malam, tak ada untaian kata-kata mutiara dan sebait puisi dalam kertas pink, serta tak ada sekotak kado untukmu. Maaf. Aku hanya mampu memberi sepucuk surat ini untukmu. Sederet huruf yang terlahir dari hati. Dan seuntai doa dalam sujudku.

“Ya Allah ya rahman ya rahim, ampunilah dia atas segala khilaf. Limpahkanlah rahmat dan hidayah-Mu untuknya. Terangilah hatinya dengan cahaya-Mu. Peluklah mimpi-mimpinya dan kuatkan dia dalam menghadapi hidup ini. Amin.”


*selamat ulang tahun sayang :*

  
Tana Tengnga, 4 Maret 2012

5 komentar:

Ainun Najib Alfatih mengatakan...

untuk saya ini...terima kasih kak..hehehe

pelukis malam mengatakan...

Jjjjiiiaaah merasanya mii :p

Mushdiqah elDrida mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Life_Story mengatakan...

andaikan untuk saya ini meleleh ma kak..:D

pelukis malam mengatakan...

@muse: hahahah ada ji tissue ta de??

@life_story: nda menggelepar ji??

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)