Kamis, 09 Februari 2012

Menepi Sejenak

Terkadang kita perlu menepi sejenak, menjahit layar yang robek...
kemudian kembali ke tengah menaklukkan ombak...

Suatu waktu kita perlu rehat sejenak keluar dari rutinitas yang ada. Tidak dapat dipungkiri se-suka apa pun kita pada sebuah rutinitas pasti akan tiba masa dimana kita berada di titik jenuh ataupun titik klimaks penuh tekanan. Setelah melawati masa itu, ada baiknya kita harus menepi. Mengumpulkan  kekuatan untuk kembali ke linimasa perjuangan. Menepi bukan berarti terkapar terbuai lelah. Cukup dengan melakukan hal-hal yang mampu membuat mu tersenyum tanpa kepalsuan. Melepaskan segala penat yang ada. Mengalirkan oksigen ke otak tanpa hambatan. Memberi ruang bahagia pada batin. 

Setelah melalui satu cerita berkisah kepedihan serta beban dan tanggung jawab yang besar. Dan sebelum memasuki masa-masa yang akan lebih menguras pikiran dan perasaan maka  akhir januari kemarin (29/1/12) kuputuskan untuk menepi sejenak. Kali ini tujuan jatuh ke kabupaten tempatku lahir dan dibesarkan, Bulukumba. Bersama Wawan kurn dan Aswad, petualangan pun dimulai :) 

Namanya Kahaya. Kawasan yang berada di kaki gunung Lompobattang dan berada pada ketinggian 1200mdpl. Kahaya adalah salah satu dusun, di Desa Kindang, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Informasi terakhir yang kami peroleh, tiga dusun termasuk kahaya telah dimekarkan menjad desa dan februari ini akan melaksanakan pemilihan kepala desa.

Malam sebelum hari H, kami briefing sampai pukul 00.00. Aslinya sih briefing cuma sekitar 10 menit selebihnya bertukar cerita berbagi inspirasi melukis mimpi :) Alhasil, keesokan harinya semua berjalan tak semulus rencana. Tadinya kami berencana barangkat pukul 8.00 dengan menggunakan motor menuju Kahaya. Namun, masalah muncul satu per satu. Mulai dari anggota yang batal berangkat (*otomatis kendaraan berkurang) sampe jadwal keberangkatan yang molor. Dan dengan bermodal nekat kami pun berdiri di pinggir jalan poros Lanto dg Pasewang berharap menemui mobil angkutan umum ke Desa Kindang. Setelah hampir sejam menunggu, terik matahari makin ganas. Kami pun beranjak menuju terminal. Setibanya di sana, kami berhasil menemukan pete-pete jurusan Dea Kindang. Beruntungnya karena pete-pete itu satu-satunya angkutan umum yang tersisa di terminal itu. Senyum pun semakin merekah di wajah kami. Kami duduk di barisan bangku penumpang sambil menunggu pete-pete itu berangkat. Penumpang lain yang mengenali kami sebagai bukan bagian dari warga Desa Kindang dan sekitarnya mulai bertanya. Dan dari pembicaraan itu disimpulkan bahwa kami harus nginap di Kahaya karena mustahil kami menemui pete-pete dari Kahaya ke kota  saat sore hari. Sementara itu, saya dan wawan harus kembali ke Kota makassar sore itu juga. #galau

Setelah putar otak putar hape, akhirnya kami dapat kendaraan (motor). Tepat pukul 12.00 kami pun memulai perjalanan.  Kurang lebih satu jam kami menempuh jarak sejauh 27 km dengan menggunakan motor. Selebihnya kami menempuh jalan setapak sejah 10 km selama 1 jam dengan jalan kaki dengan prinsip “kami adalah makhluk yang ber-pri-ke-motor-an” ^^v 

Wawan dengan Pa'Rahman (Salah Satu Tokoh Masyarakat di Kahaya)


berpose di pinggir jurang bersama tanaman jagung


to be continue...

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)