Minggu, 22 Januari 2012

SELAMATKAN “SEKOLAH CINA” KU DARI TERPAAN GELOMBANG ZAMAN *

Bulukumba, 28 Agustus 2007, rombongan peserta Kemah Ilmiah dan Promosi Wisata Arkeologi 2007 mengunjungi bangunan bersejarah “Sekolah Cina (Hwa chio)” yang hingga kini terabaikan oleh pemerintah bahkan oleh generasi muda Bulukumba sendiri. Bangunan yang menjadi saksi bisu sejarah masa lalu ini tak pernah dilirik sedikitpun oleh pemerintah. 

Sekolah Cina atau yang lebih akrab di telinga masyarakat dengan nama Skocil ini terletak di kawasan pertokoan Appassarengnge, sekitar 500 meter dari Kantor Daerah Kab. Bulukumba.  Ironisnya, meskipun bangunan ini terletak di tengah kota Bulukumba, masih banyak masyarakat khususnya generasi muda yang sama sekali tidak mengetahui keberadaan bangunan bersejarah ini. “Selama ini saya tidak pernah tahu kalo di Bulukumba ada Sekolah Cina,” ujar Indah, salah satu peserta yang berasal dari SMA Negeri 1 Bulukumba. Di kompleks Sekolah Cina (Hwa Chio) ini terdapat dua bangunan yang berbeda; gedung tua bekas sekolah dan rumah kayu dengan ukuran cukup besar yang dulunya merupakan asrama guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut. Meskipun Sekolah ini didirikan atas kerja sama Shiashu Kwan dengan beberapa orang Tionghoa yang juga bermukim di Kab. Bulukumba sebagai pedagang, arsitektur dari bangunan ini tidak sepenuhnya bergaya Cina, gaya bangunan lokal juga dapat dilihat dari bangunan ini. Bangunan ini menunjukkan adanya perpaduan antara kebudayaan Tionghoa dengan kebudayaan lokal di sekitarnya. Pada bagian depan, sebuah gapura masih tegak berdiri. Namun, Bangunan tua yang menyimpan sejuta sejarah masa lalu ini sudah tidak sekokoh dulu lagi. Beberapa sudut sudah terlihat rusak akibat termakan usia. Pada bagian belakang Sekolah ini terdapat bangunan yang merupakan bekas WC dengan semak belukar di sekelilingnya. Bahkan, pada bagian belakang bangunan ini sudah ada yang rubuh. Bangunan yang didirikan pada tahun 1948-1951 ini, sampai sekarang belum mengalami pemugaran. Hal ini terlihat dari tembok-tembok bangunan yang sudah terkelupas serta kayu-kayu pada beberapa bagian bangunan ini sudah lapuk dimakan rayap. “Bangunan ini terakhir digunakan sebagai sekolah pada tahun 1965 saat G 30S/PKI meletus, kemudian disita oleh Laksus,” ujar King Siadi (56) yang merupakan alumni dari sekolah yang sederajat dengan SD (Sekolah Dasar) ini.

Keberadaan Sekolah Cina yang merupakan salah satu aset kebudayaan dan pariwisata daerah di Kab. Bulukumba ini belum mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Apabila pemerintah lebih memperhatikan salah satu Benda Cagar Budaya (BCB) yang terabaikan ini, maka Kab. Bulukumba akan mampu berkembang menjadi daerah yang mencintai peninggalan sejarah sebagai warisan nenek moyang serta daerah yang kaya akan objek kebudayaan. Hal ini tentunya dapat mendongkrak perkembangan di berbagai aspek sebagai penunjang pembangunan daerah ini. Namun sayangnya, sampai saat ini belum ada langkah konkrit dari pemerintah. Buktinya, bangunan yang seyogyanya adalah Benda Cagar Budaya (BCB), saat ini ditempati oleh sebuah institusi sebagai asrama. Hal ini tentu saja dapat memberikan dampak yang sangat berpengaruh terhadap keotentikan salah satu aset berharga ini. Jika bangunan ini tidak segera dilindungi dan diekspose atau dipromosikan ke masyarakat luas, suatu saat situs ini akan hilang begitu saja tertelan zaman dan generasi selanjutnya tidak akan pernah tahu betapa kayanya daerah ini dengan beragam kebudayaannya. Menurut Hasriani, guru sejarah di SMA Negeri 1 Bulukumba,  “Sampai saat ini belum ada sejarawan yang menulis secara khusus mengenai keberadaan bangunan ini.” Padahal, dengan adanya tulisan-tulisan mengenai bangunan bersejarah ini, seyogyanya dapat membantu masyarakat dalam mengenal kebudayaan di daerahnya sendiri.
 
Secara tidak langsung masyarakat akan menyadari betapa pentingnya melestarikan benda-benda peninggalan sejarah. Dengan demikian, masyarakat dapat membantu pemerintah dalam mengatasi vandalisme yang merupakan salah satu faktor yang menyebabkan berkurangnya objek-objek kebudayaan.

Dengan dibukanya bangunan ini sebagai sebuah situs benda cagar budaya, perekonomian daerah juga dapat terdongkrak. Namun, menurut Darwis yang merupakan salah satu guru Sosiologi SMA Negeri 1 Bulukumba, apabila bangunan Sekolah Cina ini dikembangkan hanya atas dasar untuk mendongkrak sektor perekonomian maka situs ini tidak akan bertahan lama. Sebaliknya, jika bangunan ini mendapat sentuhan dari pemerintah atas dasar peningkatan pendidikan dalam bidang arkeologi, maka situs ini dipastikan dapat bertahan lama. Bangunan ini dapat dimanfaatkan sebagai pusat pengkajian arkeologi dengan menjadikannya sebuah museum. Artinya, dalam usaha melestarikan peninggalan sejarah daerah yang berupa bangunan Sekolah Cina ini bukan semata-mata hanya karena ingin mendongkrak perekonomian daerah tetapi juga didasarkan untuk kepentingan peningkatan kepedulian terhadap benda cagar budaya serta peningkatan mutu pendidikan dalam bidang riset dan pengkajian benda-benda arkeologi. Dari aspek edukasi, bangunan ini dapat dijadikan sebagai objek pengkajian benda-benda arkeologi yang pada nantinya akan sangat berguna bagi generasi muda dalam memahami jati diri daerahnya.

Dengan melestarikan peninggalan sejarah tersebut kita dapat memetik banyak manfaat yang dapat menambah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat khususnya generasi muda sebagai manusia yang peduli dan menghargai warisan orang-orang yang telah mendahului kita. Setelah mengetahui dan mengkaji berbagai manfaat situs bersejarah tersebut, masihkah kita diam berpangku tangan menyaksikan salah satu aset berharga kita yang sebentar lagi tenggelam tersapu gelombang zaman yang semakin ganas?

*Tulisan ini di tulis dan diikutsertakan pada lomba artikel berita KEMAH ILMIAH & PROMOSI WISATA ARKEOLOGI 2007 di Bulukumba

Menemukan tulisan ini di tumpukan file tempo doeloe bukanlah suatu kebetulan. Tulisan ini mengingatkan semangat menulis yang ternyata sudah sejak dulu ku milki :) Tulisan ini diposting sekedar ingin menyalakan semangat itu lagi dan dalam rangka memperingati Hari Imlek. Gong Xi Fa Chai !

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)