Senin, 17 Oktober 2011

MANDI KHATULISTIWA




Sekitar pukul 03.00 dini hari WIB, dalam perjalanan etafe ke empat (Dumai-Bangka) lampu kamar tiba-tiba dipadamkan. Suara angin menderu-deru dari speaker yang ada di tiap ruangan. Seperti sedang terjadi badai. Suasana jadi lebih mencekam dengan berbagai bunyi-bunyian dari benda yang terbuat dari besi saling berbenturan. Beberapa sosok tinggi, besar dan hitam lengkap dengan rambut panjang yang kusut tak karuan serta balok kayu yang dipikul dipundaknya mulai mengobrak-abrik kamar peserta dan pendamping. Kami dibangunkan secara paksa dan digiring ke Tank Deck. Di sana, berbagai sosok hitam dan berlumuran darah dengan wajah yang hancur berkeliaran dimana-mana sambil menyeret kaleng-kaleng bekas berisi oli. Suasana pun semakin riuh. Beberapa peserta ada yang berteriak histeris ketakutan bahkan ada yang pingsan.
Kami diperintahkan duduk di lantai dengan rapi. Peserta cowok diperintahkan membuka bajunya. Mereka pun bertelanjang dada di tengah udara dingin yang menusuk tulang. Sementara itu dari sudut kiri muncul iring-iringan kerajaan. Ada empat sosok di sana. Di tengah ada sang penguasa laut, Dewa Neptunus, didampingi dengan permaisurinya yang mengenakan pakaian kuning lengkap dengan untaian-untaian kuning emas yang menutupi mukanya. Sebenarnya si permaisuri itu sempat membuat peserta ribut dengan bisik-bisiknya.
“Permaisuri kok tubuhnya kekar yah?”, bisik seseorang dari arah kiri..
“Itu siapa yah? Kok cakep?”, suara-suara tidak jelas dari arah belakang.
Ya. Sepertinya “permaisuri” itu adalah seorang ABK yang notabene lelaki tulen. Tapi karena kondisi peserta yang masih setengah sadar, pemandangan mencurigakan itu tidak begitu digubris lebih jauh. Ada yang sibuk menggosok-gosok matanya mencoba mengembalikan kesadarannya ke posisi normal. Beberapa lagi histeris karena takut akan gelap dan penampakan-penampakan yang sesekali melintas di tengah peserta. Namun segelintir dari kami ada yang masih bisa tertawa melihat aksi penampakan-penampakan itu. Tak lama kemudian oli pun mendarat tepat di wajah-wajah mereka.


Di samping kiri disusun puluhan gelas plastik berwarna merah dan biru di atas meja kayu. Kemudian satu per satu dari kami dipanggil ke depan dan diberi segelas air yang katanya adalah air dari tujuh samudera di dunia ini yang wajib kami minum. Namun, tubuh yang masih memiliki kondisi indera pengecap dalam status normal dengan seketika menolak minuman ajaib itu dengan memuntahkannya. Rasanya sangat pahit. Sensasinya masih menempel dengan kuat di rongga mulut membuat sebagian besar peserta mual.

Setelah itu beberapa algojo Dewa Neptunus melumuri muka kami dengan oli yang baunya sangat menyengat membuat kami semakin mual. Peserta cewek dilumuri di bagian wajah saja. Sedangkan peserta cowok dilumuri sekujur tubuhnya. Setelah itu mereka di suruh jalan jongkok dan merayap ke arah sumber air. Dari atas, ada empat ABK KRI Makassar memegang selang yang ukurannya lumayan besar. Mereka menyemprotkan air dari atas. Yap... kami diguyur air sekitar pukul 04.00 dini hari WIB. Membuat tubuh semakin menggigil mencoba melawan suhu dingin.


Satu per satu peserta kemudian  menghadap sang dewa penguasa laut, Neptunus, berlutut dan diberkati. Maka detik itu juga kami dinobatkan sebagai “warga laut”. Dalam kondisi menggigil dan berlumuran oli kami bersorak senang dan bangga akan predikat itu. Rasa cinta akan bahari harus senantiasa tertanam dalam dada sejak saat itu. Karena sejatinya sebagai seorang warga laut, sudah menjadi suatu keharusan untuk megenali, menjaga, dan memberdayakan potensi laut khususnya Laut Indonesia yang selalu diagungkan kekayaannya. Semua itu tak lain untuk menghargai perjuangan para pahlawan yang telah mempersatukan nusantara dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote. Dan sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai generasi muda untuk melanjutkan perjuangan itu mewujudkan cita-cita kemerdekaan untuk Indonesia yang lebih baik. [+]



 SNAPSHOOTS

 

4 komentar:

Dayu Rheezma mengatakan...

what a great moment together with our archipelago family...

:D

pelukis malam mengatakan...

yeah....
dont forget the precious moment ;)
hopefully will see u again Mamiiii

namiah mengatakan...

hahhahaaa,,, jadi inget nina yg mendadak nangis di pangkuanku.. (Oh.. Tuhannn) dan kartini yg mendadak histeris, dan betis sang permaisuri yg lewat disampingku,,,(bulu kaki harusnya dicukur dulu utk mendukung performa,, hahhahaa)...

miss it a lot :'(

pelukis malam mengatakan...

hahahhahahaha.....

histeria nini betul2 heboh

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)