Rabu, 03 Agustus 2011

Logika vs Nurani: Ini Awal, Klimaks, atau Akhir Cerita Kita?



Pagi itu ketika ku buka kedua mata ini, ku temukan senyum mu dengan setangkai bunga yang kau petik dari imajinasimu lengkap dengan embunnya. Wangi. Mendamaikan jiwa... ;) aku tersenyum. Aku bahagia melihat senyum mu. Sepertinya kau menemukan lukisan yang ku titipkan pada bintang. Sepertinya kau memahami titik demi titik yg ku urai pada kanvas itu. Meski ku akui titik-titik itu begitu berantakan. Seperti logika ku yang luluh lantah oleh rasa ini.

Seperti pinta mu pagi itu. Aku tak akan pergi. Namun, ku beri tahu kau bisikan logika ku saat ini. Ia lelah memahami rasa yang menghuni jiwaku. Entah sampai kapan seperti ini. Biar waktu yang memberiku jawaban.

Mungkin kau menyesali berada di dimensi yang menyiksamu. Mungkin kau menyesali telah berada di jalan yang salah. Sama sepertimu, terkadang aku bertanya mengapa aku di sini? Di persimpangan ini?nurani ku slalu menjawabnya. ini bukanlah sesuatu yang harus kau sesali. Ini anugerah Ilahi. Ini akan menjadikanmu lebih bijak memaknai hidup. Bahwa hidup ini sarat akan makna._

Ku ingin mengatakan satu hal yang pernah menggelitikku di ujung malam. Anggaplah ini cobaan termanis ;)

Suatu ketika ku terpaku pada tanyamu apakah ini cinta?. Logika ku tak mampu menjawabnya. Nurani ku perlahan berbisik meng-iya-kan.

Sering ku dengar pujangga-pujangga mendendangkan lagu cinta. Ya. Seperti itu lah cintamu. Tulus. Apa adanya.

Lalu, logika ku kembali berontak. Apakah ini awal, klimaks, atau mungkin akhir Cerita Kita???

Nurani ku kemudian berbisik...

awal
Ini kah awal segalanya?
Tidak... Ini bukan awal. Karena cerita ini telah kita urai jauh sebelum ini. Jauh sebelum mentari menyapaku. Kisah ini berawal ketika di ujung malam kau mengurai senyum ku.

Klimaks
Ini kah klimaks dari semuanya?
Ku harap bukan.
Ku tak ingin esok menjadi antiklimaks. Ku ingin selamanya kau tetap di sini. Menemaniku melukis malam, menceritakan kesetiaan bintang pada langit, mengurai sepi yg ada diantara kita. Terang dalam gelapku seperti kemarin, hari ini, esok, dan selamanya ku harap kau tak berubah.

akhir
Ini kah akhir dari Cerita Kita?
Tidak. Ku harap ini bukan akhir segalanya. Seperti harapmu kita tetap berada dikedua titik Bulan Sabit itu hingga Purnama. Bulan Penuh. Sempurna membentuk lingkaran. Tak berawal tak berakhir...




posted from Bloggeroid

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)