Minggu, 07 Agustus 2011

Dalam Diam ku...

**Beberapa malam terakhir ini mungkin kau resah dengan tingkahku. Aku hanya diam bertamengkan senyum. Sungguh aku tak tahu harus melukiskan apa.Saat ini kembali ku mainkan jemariku dengan tuts-tuts tua keyboard ini. Mencoba mengurai rasa dalam bingkai kata...

Di ujung malam dalam bilik tua itu ku duduk dalam "posisi pejuang" sembari memejamkan mata merasakan degupan jantung yang berirama indah, udara yang keluar masuk bergantian mengisi alveolus ku, serta aliran darah di sekujur arteri-vena tubuhku, tersadar akan satu hal; betapa besar nikmatNya hingga ku masih mampu merasakan semua itu. Dalam diam... ku selalu mencari diri ku. Ku mohon padaNya agar memberiku petunjuk dimana diri ku berada kini. Ingin menemuinya dengan segera tuk adukan pergolakan logika dan nuraniku. Astral ku melayang ke suatu tempat. Aku tak mengenalinya. Di sini cukup gelap. Hanya pendaran sebatang lilin yang menerangi. Ku dapati sesosok perempuan berpakaian putih dengan senyum khasnya. Dialah diri yang ku cari.


Ku adukan semua padanya. Tapi dia hanya tersenyum membisu. Beberapa kali ku mengunjunginya namun yang kudapati hanyalah hal yang sama. Hingga malam tadi dia memintaku mengadu pada sang waktu.

Ku sadari... sang waktu tak akan menunggu ku. Sementara kau terus menanti dalam pekat sang malam. Dan aku masih di sini, di sudut hatiku, tersungkur dalam diamku. Ku coba mengadu pada binatang malam akan resah ku. Dan mereka kembali membuatku terdiam. Terpaku pada satu titik. Bukan rasaku yang ku resahkan. Tapi keadaan !

..........


Pada malam yang kian pekat, kepada sabit rembulan yang menanti purnama kau mengantungkan tanya. Benarkah semua yg kau dengar dari para bintang malam itu? dan kepada angin kubisikkan sesuatu berharap kau mampu meyakininya. Semua yang kau dengar dari bintang-bintang malam itu adalah nyata. Bukan sekedar khayalmu. Itu Aku !

Maaf jika kau tersentak dengan tanyaku malam itu. Bukan ku tak mengerti dengan semua kata yang telah kau urai menjadi satu makna. Bukan ku tak percaya pada bisikan angin. Nurani ini hanya ingin menyadarkan logikaku. Bahwa semua ini nyata bukan khayal !

Dan kini... Kepada senja yang menjemput sang rembulan kembali ke peraduannya dan pada lirih angin ku ingin titipkan sebuah asa. Tetaplah di sini menemaniku meretas asa di ujung malam hingga purnama memberikan cahayanya. Menerangi jalanku meninggalkan persimpangan ini.


biarkan bintang menuntunku menuju bangku itu dimana kau selalu setia menantiku...
 





8 komentar:

HiburDunia mengatakan...

widdiihhh..mantep neng..postingan menarikk..berkunjung ke blogku yah... Arief 3.3 Spanda Bekha

pelukis malam mengatakan...

deh..lengkap nya lagi keterangannya --» kelas 3.3 spanda bekha
;)

masih ku ingat jq bro.. ;)

iya...nanti sa kunjungi...

*keep in touch yaadeh..lengkap nya lagi keterangannya --» kelas 3.3 spanda bekha
;)

masih ku ingat jq bro.. ;)

iya...nanti sa kunjungi...

*keep in touch yaa

Bocah-bocah.. mengatakan...

biarkan bintang menuntunku menuju bangku itu dimana kau selalu setia menantiku...

KNP Harus bintang yg mntun? Kalau bintang tdk ada gmana??

pelukis malam mengatakan...

kalo bintang tidak ada...
akan ada sesuatu yg Dia kirim untuk menuntunku...ntuk menuntunku...

Bocah-bocah.. mengatakan...

Yakin seperti itu??

Ainun Najib Alfatih mengatakan...

kak timie....knapa ki dlam diam ? knjungi blogq jga nah...

http://cerminburam.blogspot.com/

Indah Arnaelizt mengatakan...

lanjutkan kak timi!!

pelukis malam mengatakan...

makasi dek :)

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)