Senin, 26 April 2010

Peranan Guru dalam Layanan Bimbingan dan Konseling

Peranan Guru dalam Layanan Bimbingan dan Konseling
1. Peranan Guru pada Umumnya
Guru mempunyai peranan dan kedudukan kunci dalam keseluruhan proses pendidikan terutama dalam pendidikan formal, bahkan dalam keseluruhan pembangunan masyarakat pada umumnya. Sehubungan dengan kualifikasi dan tugas guru, guru mengemban sekurang-kurangnya 3 tugas pokok, yaitu :
a. Tugas professional (professional task) yaitu tugas yang berkenaan dengan profesinya. Tugas ini mencakup tugas mendidik, mengajar, melatih dan mengelola ketertiban sekolah sebagai penunjang ketahanan sekolah.
b. Tugas manusiawi (human responsibility) yaitu tugasnya sebagai manusia. Dalam hal ini guru bertugas mewujudkan dirinya, dalam arti merealisasikan seluruh potensi yang dimilikinya.
c. Tugas kemasyarakatan (civic mission) yaitu tugas guru sebagai anggota masyarakat dan warga negara.
Menurut Bernard, ada beberapa syarat bagi guru, diantaranya yaitu :
a. Memiliki mental yang sehat
b. Menguasai cara-cara untuk menghindari pengaruh negative terhadap siswa.
c. Memperlakukan siswa sebagai yang unik.
d. Menghindari ucapan-ucapan yang melukai perasaan serta harga diri siswa.
2. Peranan Bimbingan dalam Pembelajaran
Keseluruhan kompetensi guru tampak dalam perilaku yang nyata (performance) dari guru yang bersangkutan. Perilaku nyata yang dilakukannya didasarkan pada berbagai unsur pendukung lainnya seperti berikut ini :
a. Penguasaan bahan pengajaran yang akan disajikan dalam proses belajar-mengajar.
b. Penguasaan dan penghayatan landasan professional guru.
c. Penguasaan dan pemanfaatan proses-proses yang diperlukan dalam menyajikan bahan pengajaran secara tepat.
d. Penyesuaian interaksional.
e. Kepribadian yang memperlihatkan internalisasi sikap, perasaan dan nilai-nilai yang diharapakan dari seorang guru.
Bolton mengemukakan 3 faktor situasional yang dapat mempengaruhi penampilan dan efektivitas guru, yaitu karakteristik :

a. Karakteristik siswa, termasuk hal-hal seperti sikap, minat,motivasi, semangat dan hasil belajar pada waktu yang lalu.
b. Karakterisitk kepala sekolah, termasuk sikap dan orientasi terhadap perubahan.
c. Karakteristik teman sejawat, ialah guru-guru lain di sekolah yang bersangkutan.
3. Peranan Guru dalam Bimbingan di Kelas
Keberhasilan belajar siswa akan lebih memadai, apabila guru menerapkan peran bimbingan dalam belajar mengajar, yang berupaya fasilitatif bagi perkembangan kepribadian siswanya, serta upaya bimbingan lain untuk membimbing siswa menentukan tujuan yang hendak dicapainya, membimbing siswa dalam menilai kebehasilannya dalam mencapai tujuan.

Sehubungan dengan peranan guru di sekolah dan beberapa penelitian yang menjadi pertimbangannya , maka guru dapat melakukan kegiatan/layanan bimbingan dengan langkah-langkah pokok, sebagai berikut :
a. Menghimpun data mengenai siswa.
b. Menganalisis data itu berdasarkan keadaan siswa pada saat terjadinya gejala kesulitan penyesuaian diri.
c. Merumuskan dugaan mengenai sumber kesulitan itu dan pendekatan yang dapat digunakan dalam memberikan bantuan kepada siswa tersebut.
d. Merencanakan langkah-langkah bantuan.
e. Melaksanakan langkah terebut.
f. Mengamati hasil bantuan yang diberikan.
g. Apabila langkah tersebut kurang atau tidak berhasil, lakukanlah perbaikan sampai hasilnya memadai.
4. Keterbatasan Guru dalam Bimbingan Di Kelas
Menurut Miller, terdapat beberapa keterbatasan guru yang ditinjaunya dari 2 alasan, yaitu rasionalisasi guru untuk menghindari tugas bimbingan dan alasan yang benar-benar merupakan keterbatasan teknis :
a. Guru mempunyai waktu yang terbatas untuk melaksanakan bimbingan.
b. Guru kurang mendapat latihan dan pengalaman untuk melakukan bimbingan.
c. Guru kurang memiliki kepribadian yang cocok untuk melakukan pekerjaan bimbingan.
d. Guru kurang aktif dalam mengatur jadwal kegiatannya untuk melaksanakan tugas-tugas bimbingan yang tidak merupakan bagian yang nyata dari pengajaran dikelas.
e. Dalam melaksanakan tugas pengajaran, guru seringkali dihadapakan pada situasi yang menuntutnya untuk memberikan konseling.
5. Perbedaan Mengajar dan Mengonseling
Miller (Natawidjaya, 1988) menemukan 3 perbedaan pokok antara proses pengajaran dan konseling, yaitu :
a. Disiplin, yang jelas harus dikembangkan dan dipertahankan oleh guru dalam kelas, sedangkan guru pembimbing seringkali harus meninggalkan disiplin untuk menciptakan suatu suasana hubungan pribadi yang memadai dengan kliennya.
b. Komunikasi, yang dilakukan oleh guru pada umumnya bersifat lisan dan guru memegang peran yang dominan sebaliknya guru pembimbing lebih banyak mendengarkan dan membangkitkan semangat klien untuk lebih banyak mengungkapkan keadaan pribadinya.
c. Tujuan yang hendak dicapai dalam pengajaran, pada umumnya ditentukan oleh sekolah dan masyarakat yang lebih luas, termasuk pemerintah sebaliknya kegiatan konseling mempunyai tujuan yang tidak begitu saja dapat dirumuskan sebelum kegiatan itu berlangsung.
Ada beberapa pertimbangan, mengapa guru juga harus melakukan kegiatan bimbingan dalam proses pembelajaran kepada siswa. Dalam hal ini Miller mengatakan :
a. Proses belajar menjadi sangat efektif, apabila bahan yang dipelajari dikaitkan langsung dengan tujuan pribadi siswa.
b. Guru yang memahami siswa dan masalah yang dihadapinya, lebih peka terhadap hal-hal yang dapat memperlancar dan mengganggu kelancaran kegiatan kelas.
c. Guru dapat memperhatikan perkembangan masalah atau kesulitan siswa secara lebih nyata.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Thank's Infonya Bray .. !!!

www.bisnistiket.co.id

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)